Rabu, 19 Oktober 2016

Guru Tangguh dan tulus

GURU TANGGUH SD DJAM'ATUL ICHWAN SURAKARTA  

“Jangan nikah sama guru, kamu nanti susah, mau dikasih makan apa nanti…”, “jangan jadi guru, gajinya kecil, cari aja pekerjaan yang lain yang lebih enak….”. Begitulah kira-kira mendengar cerita beberapa guru-guru yang sudah lama mengabdikan dirinya di dunia pendidikan. Statement seperti itu sering muncul di jaman dahulu dimana profesi guru masih dipandang sebelah mata. Determinasinya simple, karena penghasilannya kecil. Begitulah alasan orang tua dulu kalo berpesan kepada anak gadisnya yang mau menikah agar tidak dengan lelaki yang berprofesi sebagai guru, atau kepada puteranya yang ingin mencari pekerjaan untuk tidak bekerja sebagai guru.
Namun sekarang, nampaknya asumsi-asumsi seperti itu sudah meredup bahkan mungkin sudah clean dari ucapan-ucapan seseorang. Bagaimana tidak, guru sekarang sangat jauh berbeda penghasilannya dari jaman beberapa puluh tahun ke belakang. Ya, memang diakui profesi guru sekarang tidak lagi dimarjinalkan atau dianak tirikan melainkan dimanjakan, dibuai dan dihargai. Tak heran kalau sekarang banyak kita temui anak-anak muda yang bercita-cita menjadi guru, bahkan orang yang kuliahnya bukan jurusan kependidikan pun sekarang tertarik untuk mengajar. Determinasinya sama simpelnya, karena penghasilannya sudah berbeda dari yang dulu. Belum lagi tunjangan-tunjangan dan program sertifikasi yang memanjakan guru, meski sejatinya untuk peningkatan profesionalitas kinerja namun kalau mau jujur justeru kinrja malah menurun karena terlalu terbuai dengan romantisme sertifikasi sehingga tidak memikirkan bagaimana caranya meningkatkan kinerja. Hal tersebut bukan tanpa alasan, lihat saja beberapa kisah guru jaman dahulu yang sukses dan tetap survive meskipun bergaji kecil, namun sekarang meskipun bergaji besar tetap saja mengeluhkan penghasilannya.

Share:

PPDB ONLINE SD-DJI

Dibuat olehARDHA maz_ardha.develoers.com