Jumat, 25 November 2016

Artikel Genre Sastra



Artikel Genre Sastra
Tulislah sebuah artikel tentang genre sastra yang bersumber dari minimal lima sumber bacaan sastra. Artikel tersebut secara komprehensif memuat difinisi sastra dan genrenya yaitu puisi, prosa, dan drama.
Artikel ini merupakan salah satu tagihan yang harus Saudara kumpulkan di dalam E-Portofolio.

Petunjuk:
1.      Artikel ditulis  maksimal 1000 kata
2.      Ditulis dengan huruf arial 11, margin atas, bawah, kanan, kiri 2.
3.      Menggunakan minimal 5 sumber bacaan.
4.      Kerjakan seperti format berikut.

Nama                  
Instansi                : SD Djama’atul Ichwan
Mengajar Kelas  : III (Tiga)

Judul Artikel
:
Genre Sastra
Sumber Bacaan
:


1.   Jenis-Jenis Sastra (Genre); Pengertian Prosa, Puisi, dan Drama;
2.   Pemahaman Tentang Karya Sastra;
3.   Aliran Sastra;
4.   Pembentukan Karakter Anak Melalui Karya Sastra Anak Bacaan;
5.   Hakikat Sastra Anak
Isi Artikel
1.      Jenis-Jenis Sastra (Genre); Pengertian Prosa, Puisi, dan Drama
Jenis – Jenis Sastra (Genre) - Jenis-jenis sastra disebut jenre/genre sastra. Sastra digolongkan/dikelompkkkan menjadi dua kelompok yakni sastra imajinatif dan sastra non imajinatif. Selain itu sastra juga dikelompokkan menjadi dua kelompok sesuai dengan maksud atau tujuan penulis, yakni sastra anak dan sastra dewasa. Maksudnya ada penulis yang membuat karya sastra untuk orang dewasa, dan ada yang menulis karya sastra khusus untuk anak-anak.
1.      Sastra Imajinatif
Imajinasi berasal dai kata imagination yang artinya angan-angan atau khayal. Jadi, karaya sastra imajinatif adalah karya sastra yang ditulis dengan menggunakan daya khayalnya penulis/pengarang, sehingga cerita dalam karya sastra imajinatif bukanlah suatu kejadian yang sebenarnya.
Karya sastra imajinatif terdiri atas 3 jenis yakni prosa, puisi, dan drama.
a.      Pengertian Prosa
Prosa adalah karya sastra yang ditulis dengan menggunakan kalimat-kalimat yang disusun susul menyusul. Kalimat yang disusun membentuk kesatuan pikiran menjadi paragraf, paragraf membentuk bab atau bagian-bagian, dan seterusnya.
b.     Pengertian Puisi
Puisi adalah karya sastra yang ditulis dengan bentuk larik-larik dan bait-bait. 
c.      Pengertian Drama
Drama adalah karya sastra yang ditulis dengan bahasa dalam bentuk dialog. Perbedaan drama dengan puisi dan prosa adalah terletak pada tujuan penulisan naskah. Naskah drama ditulis dengan tujuan utamanya untuk dipertunjukkan, bukan untuk dibaca dan dihayati seperti pada prosa dan puisi.
2.      Sastra non imajinatif
Sastra non imajinatif adalah karya sastra yang ditulis tanpa menggunakan sifat khayalnya pengarang, sehingga cerita dalam karya sastra non imajinatif merupakan cerita yang ditulis berdasarkan cerita nyata/sebenarnya. Sebagian para ahli sastra berpendapat bahwa sastra non imajinatif bukan termasuk karya sastra

2.      Pemahaman Tentang Karya Sastra
Karya sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakinan dalam suatu bentuk gambaran kehidupan, yang dapat membangkitkan pesona dengan alat bahasa dan dilukiskan dalam bentuk tulisan. Jakop Sumardjo dalam bukunya yang berjudul "Apresiasi Kesusastraan" mengatakan bahwa karya sastra adalah sebuah usaha merekam isi jiwa sastrawannya. Rekaman ini menggunakan alat bahasa. Sastra adalah bentuk rekaman dengan bahasa yang akan disampaikan kepada orang lain.
Pada dasarnya, karya sastra sangat bermanfaat bagi kehidupan, karena karya sastra dapat memberi kesadaran kepada pembaca tentang kebenaran-kebenaran hidup, walaupun dilukiskan dalam bentuk fiksi. Karya sastra dapat memberikan kegembiraan dan kepuasan batin. Hiburan ini adalah jenis hiburan intelektual dan spiritual. Karya sastra juga dapat dijadikan sebagai pengalaman untuk berkarya, karena siapa pun bisa menuangkan isi hati dan pikiran dalam sebuah tulisan yang bernilai seni.
Setelah mengetahui apa yang dimaksud dengan karya sastra, tidak ada salahnya apabila kita melirik lebih mendalam tentang genre (jenis) karya sastra. Karya sastra dapat digolongkan ke dalam dua kelompok, yakni karya sastra imajinatif dan karya sastra nonimajinatif. Ciri karya sastra imajinatif adalah karya sastra tersebut lebih menonjolkan sifat khayali, menggunakan bahasa yang konotatif, dan memenuhi syarat-syarat estetika seni. Sedangkan ciri karya sastra nonimajinatif adalah karya sastra tersebut lebih banyak unsur faktualnya daripada khayalinya, cenderung menggunakan bahasa denotatif, dan tetap memenuhi syarat-syarat estetika seni.
Pembagian genre sastra imajinatif dapat dirangkumkan dalam bentuk puisi, fiksi atau prosa naratif, dan drama. Penjelasan tentang ketiga karya sastra ini akan kita kupas secara terperinci.
1.    Puisi
Puisi adalah rangkaian kata yang sangat padu. Oleh karena itu, kejelasan sebuah puisi sangat bergantung pada ketepatan penggunaan kata serta kepaduan yang membentuknya.
2.    Fiksi atau prosa naratif.
Fiksi atau prosa naratif adalah karangan yang bersifat menjelaskan secara terurai mengenai suatu masalah atau hal atau peristiwa dan lain-lain. Fiksi pada dasarnya terbagi menjadi novel, roman, dan cerita pendek.
Suroto dalam bukunya yang berjudul "Apresiasi Sastra Indonesia" menjelaskan secara terperinci tentang pengertian tiga genre yang termasuk dalam prosa naratif berikut ini.
a.       Novel
Novel ialah suatu karangan prosa yang bersifat cerita, yang menceritakan suatu kejadian yang luar biasa dari kehidupan orang-orang (tokoh cerita). Dikatakan kejadian yang luar biasa karena dari kejadian ini lahir suatu konflik, suatu pertikaian, yang mengalihkan jurusan nasib para tokoh. Novel hanya menceritakan salah satu segi kehidupan sang tokoh yang benar-benar istimewa, yang mengakibatkan terjadinya perubahan nasib.
b.       Roman
Istilah roman berasal dari genre romance dari Abad Pertengahan, yang merupakan cerita panjang tentang kepahlawanan dan percintaan. Istilah roman berkembang di Jerman, Belanda, Perancis, dan bagian-bagian Eropa Daratan yang lain. Ada sedikit perbedaan antara roman dan novel, yakni bahwa bentuk novel lebih pendek dibanding dengan roman, tetapi ukuran luasnya unsur cerita hampir sama.
c.        Cerita pendek.
Cerita atau cerita pendek adalah suatu karangan prosa yang berisi cerita sebuah peristiwa kehidupan manusia -- pelaku/tokoh dalam cerita tersebut. Dalam karangan tersebut terdapat pula peristiwa lain tetapi peristiwa tersebut tidak dikembangkan, sehingga kehadirannya hanya sekadar sebagai pendukung peristiwa pokok agar cerita tampak wajar. Ini berarti cerita hanya dikonsentrasikan pada suatu peristiwa yang menjadi pokok ceritanya.

3.    Drama
Genre sastra imajinatif yang ketiga adalah drama. Drama adalah karya sastra yang mengungkapkan cerita melalui dialog-dialog para tokohnya. Drama sebagai karya sastra sebenarnya hanya bersifat sementara, sebab naskah drama ditulis sebagai dasar untuk dipentaskan. Dengan demikian, tujuan drama bukanlah untuk dibaca seperti orang membaca novel atau puisi. Drama yang sebenarnya adalah kalau naskah sastra tadi telah dipentaskan. Tetapi bagaimanapun, naskah tertulis drama selalu dimasukkan sebagai karya sastra.
Selanjutnya adalah pembagian genre sastra nonimajinatif, di mana kadar fakta dalam genre sastra ini agak menonjol. Sastrawan bekerja berdasarkan fakta atau kenyataan yang benar-benar ada dan terjadi sepanjang yang mampu diperolehnya. Penyajiannya dalam bentuk sastra disertai oleh daya imajinasinya, yang memang menjadi ciri khas karya sastra. Genre yang termasuk dalam karya sastra nonimajinatif, yaitu:
a.       Esai : Esai adalah karangan pendek tentang sesuatu fakta yang dikupas menurut pandangan pribadi manusia. Dalam esai, baik pikiran maupun perasaan dan keseluruhan pribadi penulisnya tergambar dengan jelas, sebab esai merupakan ungkapan pribadi penulisnya terhadap sesuatu fakta.
b.       Kritik : Kritik adalah analisis untuk menilai sesuatu karya seni, dalam hal ini karya sastra. Jadi, karya kritik sebenarnya termasuk argumentasi dengan faktanya sebuah karya sastra, sebab kritik berakhir dengan sebuah kesimpulan analisis. Tujuan kritik tidak hanya menunjukkan keunggulan, kelemahan, benar dan salahnya sebuah karya sastra dipandang dari sudut tertentu, tetapi tujuan akhirnya adalah mendorong sastrawan untuk mencapai penciptaan sastra setinggi mungkin, dan juga mendorong pembaca untuk mengapresiasi karya sastra secara lebih baik.
c.       Biografi : Biografi atau riwayat hidup adalah cerita tentang hidup seseorang yang ditulis oleh orang lain. Tugas penulis biografi adalah menghadirkan kembali jalan hidup seseorang berdasarkan sumber-sumber atau fakta-fakta yang dapat dikumpulkannya. Teknik penyusunan riwayat hidup itu biasanya kronologis yakni dimulai dari kelahirannya, masa kanak-kanak, masa muda, dewasa, dan akhir hayatnya. Sebuah karya biografi biasanya menyangkut kehidupan tokoh-tokoh penting dalam masyarakat atau tokoh-tokoh sejarah.
d.       Autobiografi : Autobiografi adalah biografi yang ditulis oleh tokohnya sendiri, atau kadang-kadang ditulis oleh orang lain atas penuturan dan sepengetahuan tokohnya. Kelebihan autobiografi adalah bahwa peristiwa-peristiwa kecil yang tidak diketahui orang lain, karena tidak ada bukti yang dapat diungkapkan. Begitu pula sikap, pendapat, dan perasaan tokoh yang tak pernah diketahui orang lain dapat diungkapkan.
e.       Sejarah : Sejarah adalah cerita tentang zaman lampau sesuatu masyarakat berdasarkan sumber-sumber tertulis maupun tidak tertulis. Meskipun karya sejarah berdasarkan fakta yang diperoleh dari beberapa sumber, namun penyajiannya tidak pernah lepas dari unsur khayali pengarangnya. Fakta sejarah biasanya terbatas dan tidak lengkap, sehingga untuk menggambarkan zaman lampau itu, pengarang perlu merekonstruksinya berdasarkan daya khayal atau imajinasinya, sehingga peristiwa itu menjadi lengkap dan terpahami.
f.        Memoar : Memoar pada dasarnya adalah sebuah autobiografi, yakni riwayat yang ditulis oleh tokohnya sendiri. Bedanya, memoar terbatas pada sepenggal pengalaman tokohnya, misalnya peristiwa-peristiwa yang dialami tokoh selama Perang Dunia II saja. Fakta dalam memoar itu unsur imajinasi penulisnya ikut berperanan.
g.       Catatan Harian : Catatan harian adalah catatan seseorang tentang dirinya atau lingkungan hidupnya yang ditulis secara teratur. Catatan harian sering dinilai berkadar sastra karena ditulis secara jujur, spontan, sehingga menghasilkan ungkapan-ungkapan pribadi yang asli dan jernih, yakni salah satu kualitas yang dihargai dalam sastra.
h.       Surat-Surat : Surat tokoh tertentu untuk orang-orang lain dapat dinilai sebagai karya sastra, karena kualitas yang sama seperti terdapat dalam catatan harian.
Genre sastra nonimajinatif ini belum berkembang dengan baik, sehingga adanya genre tersebut kurang dikenal sebagai bagian dari sastra. Apa yang disebut karya sastra selama ini hanya menyangkut karya-karya imajinasi saja. Hal ini bisa kita lihat dari pemahaman masyarakat, khususnya pelajar tentang sastra.

3.      Aliran Sastra
Kata mazhab atau aliran berasal dari kata stroming (bahasa Belanda) yang mulai muncul di Indonesia pada zaman Pujangga Baru. Kata itu bermakna keyakinan yang dianut golongan-golongan pengarang yang sepaham, ditimbulkan karena menentang paham-paham lama (Hadimadja,1972:9). Dalam bahasa Inggris, terdapat dua kata yang maknanya sangat berkaitan dengan aliran, yaitu periodsageschool, generation dan movements.
Aliran sastra pada dasarnya berupaya menggambarkan prinsip (pandangan hidup, politik, dll) yang dianut sastrawan dalam menghasilkan karya sastra. Dengan kata lain, aliran sangat erat hubungannya dengan sikap/jiwa pengarang dan objek yang dikemukakan dalam karangannya.
Pada prinsipnya, aliran sastra dibedakan menjadi dua bagian besar, yakni (1) idealisme, dan (2) materialismeIdealisme adalah aliran romantik yang bertolak dari cita-cita yang dianut oleh penulisnya. Menurut aliran ini, segala sesuatu yang terlihat di alam ini hanyalah merupakan bayangan dari bayangan abadi yang tidak terduga oleh pikiran manusia. Aliran idealisme ini dapat dibagi menjadi (a) romantisisme, (b) simbolik, (c) mistisisme, dan (d) surealisme.
(a)   Romantisisme adalah aliran karya sastra yang sangat mengutamakan perasaan, sehingga objek yang dikemukakan tidak lagi asli, tetapi telah bertambah dengan unsur perasaan si pengarang. Aliran ini dicirikan oleh minat pada alam dan cara hidup yang sederhana, minat pada pemandangan alam, perhatian pada kepercayaan asli, penekanan pada kespontanan dalam pikiran, tindakan, serta pengungkapan pikiran. Pengikut aliran ini menganggap imajinasi lebih penting daripada aturan formal dan fakta. Aliran ini kadangkadang berpadu dengan aliran idealisme dan realisme sehingga timbul aliran romantik idealisme, dan romantik realisme. Romantik idealisme adalah aliran kesusastraan yang mengutamakan perasaan yang melambung tinggi ke dalam fantasi dan cita-cita. Hasil sastra Angkatan. Pujangga Baru umumnya termasuk aliran ini. Sementara romantik realism mengutamakan perasaan yang bertolak dari kenyataan (contoh: puisi-puisi Chairil Anwar dan Asrul Sani).
(b)   Simbolik adalah aliran yang muncul sebagai reaksi atas realisme dan naturalisme.
Pengarang berupaya menampilkan pengalaman batin secara simbolik. Dunia yang secara indrawi dapat kita cerap menunjukkan suatu dunia rohani yang tersembunyi di belakang dunia indrawi. Aliran ini selalu menggunakan simbol atau perlambang hewan atau tumbuhan sebagai pelaku dalam cerita. Contoh karya sastra yang beraliran ini misalnya Tinjaulah Dunia SanaDengarlah Keluhan Pohon Mangga karya Maria Amin dan Kisah Negara Kambing karya Alex Leo.
(c)   Mistisisme adalah aliran kesusastraan yang bersifat melukiskan hubungan manusia dengan Tuhan. Mistisisme selalu memaparkan keharuan dan kekaguman si penulis terhadap keagungan Maha Pencipta. Contoh karya sastra yang beraliran ini adalah sebagaian besar karya Amir Hamzah, Bahrum Rangkuti, dan J.E.Tatengkeng.
(d)   Surealisme adalah aliran karya sastra yang melukiskan berbagai objek dan tanggapan secara serentak. Karya sastra bercorak surealis umumnya susah dipahami karena gaya pengucapannya yang melompat-lompat dan kadang terasa agak kacau. Contoh karya sastra aliran ini misalnya Radio Masyarakat karya Rosihan Anwar, Merahnya Merah karya Iwan Simatupang, dan Tumbang karya Trisno Sumardjo.
(e)   Materialisme berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang bersifat kenyataan dapat diselidiki dengan akal manusia. Dalam kesusastraan, aliran ini dapat dibedakan atasrealisme dan naturalisme.
(f)     Realisme adalah aliran karya sastra yang berusaha menggambarkan/memaparkan/ menceritakan sesuatu sebagaimana kenyataannya. Aliran ini umumnya lebih objektif memandang segala sesuatu (tanpa mengikutsertakan perasaan). Sebagaimana kita tahu, Plato dalam teori mimetiknya pernah menyatakan bahwa sastra adalah tiruan kenyataan/ realitas. Berangkat dari inilah kemudian berkembang aliran-aliran, seperti: naturalisme, dan determinisme.
(g)   Realisme sosialis adalah aliran karya sastra secara realis yang digunakan pengarang untuk mencapai cita-cita perjuangan sosialis.
(h)   Naturalisme adalah aliran karya sastra yang ingin menggambarkan realitas secara jujur bahkan cenderung berlebihan dan terkesan jorok. Aliran ini berkembang dari realisme. Ada tiga paham yang berkembang dari aliran realisme (1) saintisme (hanya sains yang dapat menghasilkan pengetahuan yang benar), (2) positivisme ( menolak metafisika, hanya pancaindra kita berpijak pada kenyataan), dan (3) determinisme (segala sesuatu sudah ditentukan oleh sebab musabab tertentu).
(i)     Impresionisme adalah aliran kesusastraan yang memusatkan perhatian pada apa yang terjadi dalam batin tokoh utama. Impresionisme lebih mengutamakan pemberian kesan/pengaruh kepada perasaan daripada kenyataan atau keadaan yang sebenarnya. Beberapa pengarang Pujangga Baru memperlihatkan impresionisme dalam beberapa karyanya.

4.      Pembentukan Karakter Anak Melalui Karya Sastra Anak Bacaan
Dunia anak-anak tentu sewarna dengan pengalaman dan pengetahuan mereka yang belum menumpuk sehingga masih diperlukan mediasi untuk mengembangkan daya kreatifnya. Maka yang paling penting dalam hal ini adalah pemenuhan hak anak. Hal yang dimaksud adalah proses belajar, menjadi individu yang subjektif, perkembangan pengalaman dan pengetahuan, yang semuanya berada dalam bingkai dunia anak. Membaca dan menulis misalnya, merupakan hak anak sebab di sana terdapat adanya ‘proses menjadi diri sendiri secara utuh’, bukan senjadi seperti gurunya, seperti orantuanya, atau seperti orang lain.
Sejak kecil kita sering membaca komik, dongeng, fabel dll. Kita disuguhkan dengan cerita-cerita ditektif, hewan, petualangan. Secara umum bacaan anak-anak sekarang pasti tak lepas dari komik. Tak bisa dielakkan, daftar buku terlaris anak pada jaringan toko buku terkemuka menunjukkan golongan buku komik Crayon Shinchan, Yu Gi Oh!, Detektif Conan Special, New Kung Fu Boy, Samurai Deeper Kyo, Naruto, Baby Love, Gals, atau Cerita Spesial Doraemon selalu menjadi pilihan untuk dibeli. Selain buku komik Jepang tersebut, seri terjemahan dari Walt Disney-lah yang sering kali tampak di pasaran. Merebaklah tuduhan bahwa bacan-bacaan tersebut telah memelintir anak-anak bangsa hingga hanya memiliki segelintir nilai-nilai universal yang canggung dan kehilangan akar budayanya.
Sastra anak sebagai salah satu bentuk karya sastra, wujud pertama dapat dilihat dari bahannya, yaitu bahasa. Dalam pemakaian bahasa, sastra anak tidak mengandalkan satu bentuk keindahan sebagaimana laiknya karya sastra. Yang paling penting untuk ditonjolkan dalam sastra anak adalah fungsi yang hadir bersamanya, yaitu aspek pragmatis. Namun karena berpatok kaku pada tataran ini banyak karya sastra anak Indonesia yang terjebak dalam tema yang itu-itu saja, tidak berkembang, terlebih lagi unsur didaktik yang kuat menimbulkan kesan menggurui dan melemahkan cerita.
Seperti pada jenis karya sastra umumnya, sastra anak juga berfungsi sebagai media pendidikan dan hiburan, membentuk kepribadian anak, serta menuntun kecerdasan emosi anak. Pendidikan dalam sastra anak memuat amanat tentang moral, pembentukan kepribadian anak, mengembangkan imajinasi dan kreativitas, serta memberi pengetahuan keterampilan praktis bagi anak. Fungsi hiburan dalam sastra anak dapat membuat anak merasa bahagia atau senang membaca, senang dan gembira mendengarkan cerita ketika dibacakan atau dideklamasikan, dan mendapatkan kenikmatan atau kepuasan batin sehingga menuntun kecerdasan emosinya.

A.       Karakter anak :
Apapun karakter anak, sebaiknya diterima kemudian dipahami sehingga bisa memberikan pola asuh sesuai kebutuhan anak. ??Saat menghadapi anak sulit (difficult child) yang menangis, sebaiknya orangtua lebih sabar dan tidak menimpalinya dengan omelan, atau bentakan (verbal abuse) yang justru membuat anak merasa tidak nyaman, Pelukan dan belaian lembut akan menciptakan rasa nyaman dan menurunkan kerewelan si anak sulit.dengan mengenali karakter anak, orangtua dapat memahami dan menemukan cara-cara tepat untuk mengasuh anak. Misalnya jika anak tergolong introvert, jangan terlalu memaksa anak akan bercerita tentang perasaan atau kebutuhannya. Namun, mungkin saja orangtua perlu usaha lebih untuk mendekatkan diri dan mengajak anak bicara. Sementara pada anak yang lebih terbuka dan selalu bercerita tanpa diminta, maka orangtua bisa mengarahkan anak untuk melihat kondisi dan waktu yang tepat bercerita.
orangtua bisa mengenali kepribadian anak berdasarkan pengamatan perilaku anak sehari-hari seperti cara anak berkomunikasi, gaya hidup, atau ketika anak tengah menganalisa suatu persoalan dan membuat keputusan sendiri. Menurut Carl Gustav Jung dalam bukunya Personality Plus karakter anak bisa dibedakan berdasarkan caranya membuat keputusan, ada anak yang mempertimbangkan perasaan orang lain (feeling) atau hanya menggunakan data-data dan hal-hal yang memang ia lihat dan miliki (thinking). Kemudian bisa juga melihat gaya hidup dari anak, misal penuh spontanitas dan tidak terduga, kurang peduli pada aturan-aturan kaku (perceiving), penuh perencanaan, atau taat pada aturan (Judgement).

B.       Mengenali karakter anak :
Belajar baca-tulis pada anak usia dini bisa dilakukan dengan cara menyenangkan. Cara paksaan dengan jadwal belajar ketat dan harus memenuhi target buatan orang dewasa hanya akan membuat anak merasa tertekan. Anak bisa saja mahir baca-tulis pada usia dini, tetapi apakah kesadaran dan kebutuhan juga ikut tumbuh dalam jiwa mereka? Itu pertanyaan dasarnya. Tanpa didasari kebutuhan belajar, anak terbentuk seperti robot yang pasrah saja diprogram apa pun oleh orangtuanya.

"Dengan melatih kepekaan anak sejak dini melalui proses alamiah si anak, akan terbentuk kesadaran dari jiwa terdalam anak. Kepekaan ini kemudian melahirkan kebutuhan dasar anak yang datang dari rasa ingin tahu mereka. Jika anak dapat menyadari kebutuhannya, kesadaran belajar akan muncul dengan sendirinya tanpa dipaksa, termasuk dalam hal baca-tulis sejak usia dini,"  ujar Dewi.

Lantas, bagaimana cara menumbuhkan kesadaran belajar dari dalam diri si anak? Jawabnya, bebaskan anak beraktivitas dan menggali rasa ingin tahu.
Seberapa sering Anda melihat anak membolak-balik buku cerita atau buku bacaan? Apa yang Anda lakukan? Menghentikan aktivitas si anak karena menurut persepsi Anda si anak akan merobek buku dan membuat berantakan seisi rumah? Jika itu cara Anda, hentikan sekarang juga.

Masa alami anak-anak menggali rasa ingin tahunya dimulai dengan membongkar rak buku dan melihat buku-buku tersebut meski si anak belum bisa membaca. Bebaskan anak menggali rasa ingin tahunya dengan melihat bentuk buku, gambar, tulisan, atau apa pun yang menarik perhatian mereka dari bahan bacaan. Bahkan, sekadar memegang buku pun menjadi awal ketertarikan anak yang semestinya tidak diintervensi orang dewasa.

Selanjutnya, anak akan mulai mengenali alat tulis dan membuat coretan tak beraturan. Sebagai orangtua, arahkan anak untuk mencoret di tempat yang disediakan. Biarkan anak mengeksplorasi dirinya. Jika anak terlihat aktif, pantau mereka tanpa perlu mencampuri, apalagi melarang. Anak-anak tak akan tahu rasanya sakit karena terjatuh jika dilarang berlarian, bukan?

"Jika kebebasan eksplorasi diri ini didapatkan oleh anak-anak, akan muncul masa di mana anak merasa butuh sesuatu, termasuk belajar membaca," papar Dewi.
Sederhananya, dimulai dari pegang buku, membolak-balik halaman, hingga mencoret, anak mulai merasa butuh belajar baca tulis. Jika sudah butuh, anak akan meminta. Nah, di sini orangtua punya peran. Mulai saja dengan membacakan buku cerita dan mendiskusikan; perlahan anak akan mulai bertanya cara membacanya. Peran aktif orangtua sangat memengaruhi sejauh mana kemampuan baca-tulis anak. 

C.       Sastra Anak dan Bacaan Anak :
Puisi Anak; Secara tipografi, puisi anak ditulis dalam bentuk bait-bait, bahasanya berirama, sederhana, singkat dan padat yang menggambarkan citraan yang terjangkau anak, dan isinya mengambarkan suatu pengalaman yang dipadatkan berdasarkan sudut pandang anak, luapan emosi yang ada di dalamnya dipengaruhi oleh tanggapan inderanya. Puisi anak dapat dibedakan ke dalam puisi tradisional, yaitu puisi yang memiliki ciri-ciri tradisional, seperti kakawihan barudak (nyanyian anak-anak), pupujian dan pupuh; serta puisi modern atau lebih dikenal dengan istilah sajak.
Sastra anak adalah buku-buku bacaan yang sengaja  di tulis untuk dikonsumsi oleh anak-anak, buku-buku yang isi kandungannya  sesuai dengan minat dan dunia anak, sesuai dengan perkembangan emosional dan intelektual anak, dan buku-buku yang karenanya dapat memuaskan anak. Definisi dia atas bertolak dari definisi yang diutarakan oleh Hunt (Nurgiantoro 2005:8). Buku bacaan yang dibaca oleh, yang secara khusus cocok untuk, dan yang secara khusus pu la memuaskan sekelompok anggota yang kini disebut anak anak.
Prosa Anak; Cerita tentang hidup dan kehidupan berdasarkan sudut pandang anak yang ditulis secara prosais. Prosa anak dapat berkisah apa saja, baik kehidupan manusia, binatang, tumbuhan, maupun kehidupan yang lain termasuk makhluk dari dunia lain. Tokoh anak harus menjadi pusat perhatian dan pengisahan. Dengan demikian, ketika membaca cerita prosa itu anak dengan mudah memahami, mengidentifikasikan, dan mengembangkan fantasinya lewat bacaan. Prosa anak pun dapat berupa prosa tradisional seperti cerita dongeng dan prosa modern seperti novelet anak.
Drama Anak; teks yang berupa dialog para tokoh yang membentuk sebuah alur cerita. Dialog yang ada dapat diungkapkan dalam bentuk percakapan yang diucapkan atau dalam bentuk nyanyian atau disenandungkan yang disebut drama suara, seperti purna drama Nini Anteh karya Wahyu wibisana dan gending karesmen Nyai Arum Tresna Malati karya Hidayat Suryalaga.
Komik Anak; cerita bergambar dengan sedikit tulisan. Komik sering dikonotasikan dengan hal-hal yang lucu, unsur kelucuan itu terdapat pada gambar yang menghiasinya yang sering tidak proporsional tetapi memiliki kepaduan cerita  (Ampera,   2010: 2).

D.       Sastra Anak dan Pembentukan Karakter :
Sastra Anak dan Pembentukan Karakter Genre sastra yang selain memberikan hiburan juga mengajarkan nilai-nilai moral dan kebijaksanaan hidup yang dianggap penting bagi anak Media yang paling efektif untuk menyampaikan nilai-nilai pembentuk karakter Tidak sekadar bahan bacaan tetapi juga pembuka cakrawala dan dunia imajinasi anak Kesusasteraan mencerminkan berbagai aspek budaya seperti seperti nilai-nilai, keyakinan, cara hidup dan pola pikir (Jenkins & Austin 1987)
Ada empat titik tolak yang dapat diambil  untuk merumuskan secara khusus sapa yang disebut bacaan anak-anak, yaitu:
1)       Rumusan khusus
o   Tradisionil : Bacaan anak-anak adalah yang tumbuh dari lapisan rakyat sejak zaman dahulu kala dalam bentuk mitologi, ceritera-ceritera binatang, dongeng, legenda, dan kisah-kisah kepahlawanan yang romantis.
o   Idealistis : Bacaan anak-anak harus bersifat patut, dan universal dalam arti, didasarkan pada bahan-bahan terbaik yang diambil dari zaman yang telah lalu dan karya-karya masa kini.
o   Popular : Bacaan anak-anak adalah bacaan yang bersifat menghibur, sesuatu yang menyenangkan anak-anak .
o   Teoritis : Bacaan anak-anak adalah bacaan yang dikonsumir anak-anak dengan bimbingan  dan pengarahan anggota-anggota dewasa suatu masyarakat, sedangkan penulisnya juga dilakukan oleh orang–orang dewasa (Riris Sarumpaet, 1976 :23).

2)       Ciri-ciri Khas
Selain rumusan-rumusan khusus terdapat ciri-ciri khas bacaan anak, antara lain:
Adanya sejumlah pantangan, artinya karena pembacanya anak-anak dari berbagai kelompok usia, maka hanya hal-hal tertentu yang dapat dikisahkan pada anak-anak  dari kelompok-kelompok usia tertentu. Dalam hal inilah, kita dapat memanfaatkan sumber-sumber, sasaran dan konteksnya.

Penyajian dengan gaya langsung. Deskripsi yang sesingkat mungkin dan menuju sasaran langsung, mengetengahkan aksi yang dinasmis dan jelas sebab-musababnya. Di sana-sini deskripsi diselingi dialog yang wajar, organis, dan hidup.

Adanya fungsi terapan. Karena buku anak-anak ditulis oleh orang dewasa, maka fungsi itu seringkali menampung kecenderungan penulisnya untuk menggurui. Semua bacaan anak-anak ditandai oleh selalu adanya hal-hal yang informatif, oleh adanya elemen-elemen yang beranfaat baik untuk pengetahuan umum atau keterampilan, maupun untuk pertumbuhan anak-anak.
(Riris Sarumpaet, 1976: 24)

3)       Kejujuran :
Kejujuran Nilai yang sangat penting dalam budaya Barat (ada pepatah Bahasa Inggris: ”Honesty is the best policy”). Budaya Indonesia bukannya tidak menjunjung tinggi nilai kejujuran, hanya saja dalam masyarakat kita ada nilai-nilai lain yang mungkin dianggap lebih penting, seperti toleransi dan tenggang rasa.

5.      Hakikat Sastra Anak
Disekolah Dasar, Pembelajaran Sastra dimaksudkan Untuk meningkatkan kemampuan siswa mengapresiasikan karya sastra. Menurut Huck (1987 : 630-623) bahwa pembelajaran sastra di SD harus memberi pengalaman pada siswa yang akan berkontribusi pada 4 tujuan, yakni :
1)      Pencarian kesenangan Pada buku
2)      Menginterprestasikan bacaan sastra
3)      Mengembangkan kesadaran bersastra
4)      Mengembangkan apresiasi
Pembelajaran sastra di SD adalah Pembelajaran sastra anak. Sastra anak adalah karya sastra yang secara khusus dapat dipahami oleh anak-anak dan berisi tentang dunia yang akrab dengan anak-anak, yaitu anak yang berusia antara 6-13 tahun. Sifat sastra anak adalah imajinasi semata, bukan berdasarkan pada fakta. Unsur imajinasi ini sangat menonjol dalam sastra anak. Hakikat sastra anak harus sesuai dengan dunia dan alam kehidupan anak-anak yang khas milik mereka dan bukan milik orang dewasa. Sastra anak bertumpu dan bermula pada penyajian nilai dan imbauan tertentu yang dianggap sebagai pedoman tingkah laku dalam kehidupan.
Jenis sastra anak meliputi prosa, puisi, dan drama. Jenis prosa dan puisi dalam sastra anak sangat menonjol. Berdasarkan kehadiran tokoh utamanya, sastra anak dapat dibedakan atas tiga hal, yaitu :
1)      sastra anak yang mengetengahkan tokoh utama benda mati,
2)      sastra anak yang mengetengahkan tokoh utamanya makhluk hidup selain manusia,
3)      sastra anak yang menghadirkan tokoh utama yang berasal dari manusia itu sendiri.
Seperti pada jenis karya sastra umumnya, sastra anak juga berfungsi sebagai media pendidikan dan hiburan, membentuk kepribadian anak, serta menuntun kecerdasan emosi anak. Pendidikan dalam sastra anak memuat amanat tentang moral, pembentukan kepribadian anak, mengembangkan imajinasi dan kreativitas, serta memberi pengetahuan keterampilan praktis bagi anak. Fungsi hiburan dalam sastra anak dapat membuat anak merasa bahagia atau senang membaca, senang dan gembira mendengarkan cerita ketika dibacakan atau dideklamasikan, dan mendapatkan kenikmatan atau kepuasan batin sehingga menuntun kecerdasan emosinya.
Kegiatan Belajar 2
Apresiasi Sastra Anak
1.      Apresiasi berarti :
a)      kesadaran terhadap nilai-nilai seni dan budaya;
b)      penilaian (penghargaan) terhadap sesuatu; dan
c)      kenaikan nilai barang karena harga pasarnya naik atau permintaan akan barang itu bertambah.
Sehubungan dengan materi pembelajaran sastra anak ini, pengertian apresiasi yang kita maksudkan di sini adalah pengertian pertama dan kedua, yaitu (a) kesadaran kita terhadap nilai-nilai seni dan budaya (sastra anak), dan (b) penilaian atau penghargaan kita terhadap sesuatu (sastra anak).
Ada tiga batasan apresiasi sastra anak, yaitu
a)      Apresiasi sastra anak adalah penghargaan (terhadap karya sastra anak) yang didasarkan pada pemahaman;
b)      Apresiasi sastra anak adalah penghargaan atas karya sastra anak sebagai hasil pengenalan, pemahaman, penafsiran, penghayatan, dan penikmatan yang didukung oleh kepekaan batin terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra anak; dan
c)      Apresiasi sastra anak adalah kegiatan menggauli cipta sastra anak dengan sungguh-sungguh hingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra anak.
Dalam melaksanakan apresiasi sastra anak itu kita dapat melakukan beberapa kegiatan, antara lain :
a)      kegiatan apresiasi langsung, yaitu membaca sastra anak, mendengar sastra anak ketika dibacakan atau dideklamasikan, dan menonton pertunjukan sastra anak dipentaskan;
b)      kegiatan apresiasi tidak langsung, yaitu mempelajari teiri sastra, mempelajari kritik dan esai sastra, dan mempelajari sejarah sastra;
c)      pendokumentasian sastra anak, dan
d)      melatih kegiatan kreatif mencipta sastra atau rekreatif dengan mengungkapkan kembali karya sastra yang dibaca, didengar atau ditontonnya.
Ada tiga tingkatan atau langkah dalam apresiasi sastra anak, yaitu :
a)      seseorang mengalami pengalaman yang ada dalam cipta sastra anak, ia terlibat secara emosional, intelektual, dan imajinatif;
b)      setelah mengalami hal seperti itu, kemudian daya intelektual seseorang itu bekerja lebih giat menjelajahi medan makna karya sastra yang diapresiasinya; dan
c)      seseorang itu menyadari hubungan sastra dengan dunia di luarnya sehingga pemahaman dan penikmatannya dapat dilakukan lebih luas dan mendalam.
Setidaknya terdapat lima manfaat bagi kehidupan ketika mengapresiasi sastra anak, yaitu
a)       manfaat estetis,
b)       manfaat pendidikan,
c)        manfaat kepekaan batin atau sosial,
d)       manfaat menambah wawasan, dan
e)       manfaat pengembangan kejiwaan atau kepribadian.

Kegiatan Belajar 3
Pembelajaran Apresiasi Sastra Anak
2.       Pembelajaran apresiasi sastra anak di sekolah dasar meliputi tiga tahapan yang harus dilalui seorang guru, yaitu :
a.    persiapan pembelajaran,
b.    pelaksanaan pembelajaran, dan
c.    evaluasi pembelajaran.
Tahap persiapan pembelajaran apresiasi sastra anak di sekolah dasar bagi seorang guru dapat menyangkut dengan dirinya, yaitu
a.    persiapan fisik, dan
b.    persiapan mental.
Fisik seorang guru harus sehat jasmaninya, tidak sakit-sakitan. Mentalnya pun harus sehat jiwanya, tidak sakit ingatan.
Sementara itu, hal-hal teknis yang perlu dipersiapkan adalah:
a.    memilih bahan ajar,
b.    menentukan metode pembelajaran, dan
c.    menuliskan persiapan mengajar harian.
1)        Bahan ajar harus sesuai dengan anak didik sehingga pertimbangan usia anak didik menjadi pilihan utama. Keberagaman tema, keberagaman pengarang, dan bobot atau mutu karya sastra yang akan dijadikan bahan ajar juga menjadi pertimbangan yang matang. Menentukan metode harus disesuaikan dengan kemampuan guru dan kebutuhan serta kesesuaian dengan keadaan siswa. Menuliskan persiapan mengajar harian merupakan salah satu bentuk keprofesionalan seorang guru. Penulisan PMH itu juga menunjukkan bahwa guru siap secara lahir batin hendak menyampaikan pembelajaran apresiasi sastra anak di sekolah dasar.
2)        Pelaksanaan pembelajaran apresiasi sastra anak di sekolah dasar dapat dimulai dari kegiatan pra-KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) hingga KBM di kelas. Kegiatan pra-KBM dapat dilakukan dengan memberi salinan atau kopi teks sastra, diberi tugas membaca, menghafalkan, meringkas atau mencatat dan menemukan arti kata-kata sukar yang terdapat dalam teks sastra. KBM di kelas dapat dilakukan dengan memberi tugas membaca sajak, membaca cerita, berdeklamasi atau mendongeng di depan kelas, Setelah itu baru diadakan tanya jawab, menuliskan pendapat, dan berdiskusi bersama merumuskan isi, tema, dan amanat.
3)        Evaluasi pembelajaran apresiasi sastra itu hendaknya mengandung tiga komponen dasar evaluasi, yaitu :
a.    kognisi,
b.    afeksi, dan
c.    keterampilan.
Pada umumnya dikenal dua bentuk penilaian, yaitu :
a.    penilaian prosedur, yang meliputi penilaian proses belajar dan penilaian hasil belajar, dan
b.    instrumen atau alat penilaian, yang meliputi tanya jawab, penugasan, esai tes dan pilihan ganda.


Share:

PPDB ONLINE SD-DJI

Dibuat olehARDHA maz_ardha.develoers.com