Rabu, 16 November 2016

SASTRA LAMA DAN SASTRA BARU


SASTRA LAMA DAN SASTRA BARU

Bahan Bacaan Sastra Lama dan Sastra Baru 1 Sastra Lama dan Sastra Baru Dalam perkembangan sastra di Indonesia sastra dibagi berdasarkan waktu kemunculannya sehingga terdapatlah apa yang disebut dengan sastra lama dan sastra baru. Sastra lama merujuk pada sastra lisan yang sudah sejak lama mengakar pada masyarakat tutur Indonesia. Berdasarkan ragamnya sastra lama dapat berupa puisi lama yang terbagi menjadi: pantun, syair, karmina, talibun, gurindam. Untuk kategori cerita naratif atau prosa sastra, jenis sastra lama yang dikenal antara lain: dongeng, legenda, hikayat, myte. Secara umum sastra lama dan sastra baru dapat dilihat perbedaannya dari keteraturan sastra lama ketat dan taat pada aturan sedangkan pada sastra baru lebih bebas. Berdasarkan waktu, puisi dapat dikelompokkan menjadi puisi lama dan puisi baru. Beberapa jenis puisi lama yang dikenal oleh masyarakat sastra Indonesia antara lain. 1. Pantun Pantun berasal dari kata patuntun dalam bahasa Minangkabau yang berarti "petuntun". Pantun terdiri atas empat larik (atau empat baris bila dituliskan), setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, bersajak dengan pola a-b-a-b dan a-a-a-a (tidak boleh a-a-b-b, atau a-b-b-a). Pantun pada mulanya merupakan sastra lisan namun sekarang dijumpai juga pantun yang tertulis. Ciri lain dari sebuah pantun adalah pantun tidak terdapat nama penulis. Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian: sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, kerap kali berkaitan dengan alam (mencirikan budaya agraris masyarakat pendukungnya), dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud selain untuk mengantarkan rima/sajak. Dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut. Berikut contoh pantun Jalan-jalan ke pasar baru Jangan lupa beli sepatu Kalau hendak mencari ilmu Jangan malu bertanya pada guru Pantun sendiri masih berbagai macam jenisnya, diantaranya: Bahan Bacaan Sastra Lama dan Sastra Baru 2 a. pantun adat b. pantun agama c. Pantun budi d. Pantun jenaka e. Pantun kepahlawanan f. Pantun kias g. Pantun nasihat h. Pantun percintaan i. Pantun peribahasa j. Pantun perpisahan k. Pantun teka teki 2. Seloka (pantun berkait) Seloka adalah pantun berkait yang tidak cukup dengan satu bait saja sebab pantun berkait merupakan jalinan atas beberapa bait. Seloka mempunyai ciri: (1) Baris kedua dan keempat pada bait pertama dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait kedua. (2) Baris kedua dan keempat pada bait kedua dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait ketiga, dan seterusnya, sedangkan aturan pembuatan pantunnya sama dengan aturan pantun yang sudah disebutkan sebelumnya. Contoh seloka Lurus jalan ke Payakumbuh, Kayu jati bertimbal jalan Di mana hati tak kan rusuh, Ibu mati bapak berjalan Kayu jati bertimbal jalan, Turun angin patahlah dahan Ibu mati bapak berjalan, Ke mana untung diserahkan 3. Talibun Talibun adalah pantun jumlah barisnya lebih dari empat baris, tetapi harus genap Bahan Bacaan Sastra Lama dan Sastra Baru 3 misalnya 6, 8, 10 dan seterusnya. Jika satu bait berisi enam baris, susunannya tiga sampiran dan tiga isi. Jika satu bait berisi delapan baris, susunannya empat sampiran dan empat isi.Jadi, apabila enam baris sajaknya a – b – c – a – b – c.Bila terdiri dari delapan baris, sajaknya a – b – c – d – a – b – c – d Contoh talibun: Telah penat hamba mendaki mendaki batu berjenjang bulan tak juga terang-terangnya Telah penat hamba menanti telah putih mata memandang tuan tak kunjun datang juga 4. Pantun Kilat (Karmina) Karmina mempunyai ciri-ciri: Setiap bait terdiri dari dua baris, baris pertama merupakan sampiran. Baris kedua merupakan isi. Bersajak a – a. Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata. Pada umumnya karmina digunakan untuk memberi sindiran secara halus. Karmina juga dapat dibagi lagi sesuai dengan isinya sebagaimana pantun. Contoh karmina Dahulu parang, sekarang besi Dahulu sayang sekarang benci 5. Mantra Mantra adalah puisi tua yang keberadaannya dalam masyarakat Melayu pada mulanya bukan sebagai karya sastra melainkan sebagai adat dan kepercayaan. Mantra tidak memiliki aturan tertentu seperti halnya dalam pantun. Hanya pada saat itu mantra dianggap mengandung kekuatan ghaib yang diucapkan dalam waktu tertentu. Contoh mantra untuk menyadap nira/gula aren dapat dilihat di bawah ini. Assalammu’alaikum putri satulung besar Yang beralun berilir simayang Mari kecil, kemari Aku menyanggul rambutmu Aku membawa sadap gading Akan membasuh mukamu Bahan Bacaan Sastra Lama dan Sastra Baru 4 6. Gurindam Gurindam adalah puisi lama yang berasal dari Tamil (India) yaitu kirindam yang berarti mula-mula, amsal, atau perumpamaan. Gurindam mempunyai ciri: Sajak akhir berima a – a ; b – b; c – c dst. Sama dengan ciri sastra lama lainnya gurindam berisinya nasihat yang cukup jelas yakni menjelaskan atau menampilkan suatui sebab akibat. Perhatikan contoh gurindam berikut. Kurang pikir kurang siasat Tentu dirimu akan tersesat Barangsiapa tidak sembahyang Bagai rumah tiada tiang 7. Syair Syair merupakan salah satu jenis puisi lama. Kata "syair" berasal dari bahasa Arab syu’ur yang berarti "perasaan". Kata syu’ur berkembang menjadi kata syi’ru yang berarti "puisi" dalam pengertian umum. Syair dalam kesusastraan Melayu merujuk pada pengertian puisi secara umum. Akan tetapi, dalam perkembangannya syair tersebut mengalami perubahan dan modifikasi sehingga syair didesain sesuai dengan keadaan dan situasi yang terjadi. Penyair yang berperan besar dalam membentuk syair menjadi khas Melayu adalah Hamzah Fansuri dengan berbagai karya syair yang ditulisnya, antara lain: Syair Perahu, Syair Burung Pingai, Syair Dagang, dan Syair Sidang Fakir. Syair memiliki ciri: Setiap bait terdiri atas empat baris. Setiap baris terdiri atas 8-12 suku kata. Bersajak a-a-a-a. Isi tidak semua sampiran. Contoh : Pada zaman dahulu kala Tersebutlah sebuah cerita Sebuah negeri yang aman sentosa Dipimpin sang raja nan bijaksana Negeri bernama Pasir Luhur Tanahnya luas lagi subur Rakyat teratur hidupnya makmur Rukun raharja tiada terukur Raja bernama Darmalaksana Tampan rupawan elok parasnya Bahan Bacaan Sastra Lama dan Sastra Baru 5 Adil dan jujur penuh wibawa Gagah perkasa tiada tandingnya Puisi Baru Puisi baru adalah pembaharuan dari puisi lama yang mendapat pengaruh dari Barat. Dalam penyusunan puisi baru mengenai rima dan jumlah baris setiap bait tidak terlalu dipentingkan. Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima. Namun demikian, bentuk puisi lama tetap mempengaruhi penulisan puisi baru. Rizal (2010:75) mengungkapkan, ciri-ciri puisi baru yaitu: 1. Bentuknya rapi, simetris. 2. Mempunyai persajakan akhir (yang teratur). 3. Banyak mempergunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada pola yang lain. 4. Sebagian besar puisi empat seuntai. 5. Tiap-tiap barisnya atas sebuah gatra (kesatuan sintaksis) 6. Tiap gatranya terdiri atas dua kata (sebagian besar): 4-5 suku kata. Jenis puisi baru berdasarkan isinya menjadi beberapa macam yaitu. 1. Balada Balada adalah puisi berisi kisah atau cerita suatu riwayat. Balada berbeda dari sajak epik yang menekankan pada heroisme seorang tokoh sejarah atau tokoh mitos. Balada menceritakan kehidupan orang biasa yang penuturannya didramatisasi sehingga menyentuh. Balada lebih berkembang di Indonesia dibandingkan karya epik. Sastrawan yang terkenal dengan sajak baladanya adalah WS Rendra. 2. Himne Himne adalah puisi yang bersifat transendental atau berisi pujian untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan. Pada umumnya himne berisi pujian atau keluh kesah yang ingin disampaikan kepada Tuhan, untuk lebih memahami bagaimana bentuk dan isi himne perhatikan sajak karya Abdul Hadi WM berikut. Tuhan, Kita Begitu Dekat Tuhan, Kita begitu dekat Bahan Bacaan Sastra Lama dan Sastra Baru 6 Sebagai api dengan panas Aku panas dalam apimu Tuhan, Kita begitu dekat, Seperti kain dengan kapas. Aku kapas dalam kainmu Tuhan, Kita begitu dekat, Seperti angin dengan arahnya. Kita begitu dekat. Dalam gelap Kini aku nyala Pada lampu padammu 3. Ode Ode adalah puisi yang berisi sanjungan untuk orang, benda, atau peristiwa yang memuliakan. Biasanya, ode ditujukan kepada pahlawan atau tokoh yang berpengaruh. Sajak Chairil Anwar berjudul “Diponegoro”. 4. Epigram Epigram adalah puisi yang berisi tuntunan atau ajaran hidup, nilai-nilai kehidupan dan ajaran moral menjadi ciri khusus epigram ini. Pada puisi lama berjenis pantun juga berisi hal yang sama, tetapi dalam epigram lebih keras dan cenderung menyindir dalam menyampaikan maksudnya. Untuk lebih jelasanya lagi perhatikan epigram karya Surapati berikut ini. Pemuda Pemuda... Apakah pemuda sebenar pemuda Yang jadi semarak sejarah dunia? Apakah dia Muda usia, Beliau yang pandai melagak gaya Asyik berhias senantiasa Bahan Bacaan Sastra Lama dan Sastra Baru 7 Saya tahu banyak yang menyangka Pemuda itu yang muda belaka Ia merasa megah dan suka Bila disebut engkau pemuda Pemuda... Adakah pemuda sebenar pemuda Pemuda yang berani membusungkan Dada: inilah saya Tlah sedia! Semangat muda, jiwaku muda Kehendaku harusm dapat ditunda! Pemuda bukan hiasan anggota Bukan pula hiasan kata Tetapi menjadi hiasan bangsa Karena usaha yang banyak jasa Pemuda... Hanya engkau waris yang tunggal untuk menerima pusaka tinggal pusaka bukan emas intan Tetapi usaha yang masih terbengkalai Wajiblah engkau lunaskan tunai! Engkau waris, wahai pemuda Engkau juga bapak dan bunda Engkaulah...hanya Engkaulah..semuanya... Bahan Bacaan Sastra Lama dan Sastra Baru 8 5. Romance Romance adalah puisi yang berisi kisah-kisah percintaan, yang pada umumnya lahir dari pengalaman pengarang tentang kisah percintaan yang pernah dialami. Romance juga bisa lahir dari pengamatan pengarang terhadap orang-orang sekitar yang tengah menjalin hubungan cinta. 6. Elegi Elegi adalah puisi yang mengungkapkan kesedihan. Jenis puisi ini lebih ditujukan untuk ekspresi perasaan aku-lirik sehingga puisi lebih menekankan yang dirasakan aku lirik. Sebagai contoh, perhatikan puisi karya Sutan Takdir Alisjahbana berikut. Bertemu Aku berdiri di tepi makam Surya pergi menyinari tanah Merah muda terpandang mata Jiwaku mesra tunduk ke bawah Dalam hasrat bertemu muka Melimpah mengalir kandungan masa Dalam kami berhadap-hadapan Menembus tanah yang tebal Kuangkat muka melihat sekitar Kuburan berjajar beraratus-ratus Tanah memerah rumput merimbun Pualam bernayanyi , kayu berlumut Sebagai kilat nyinar di kalbu Sebanyak itu curahan duka Sesering itu pilu menyayat Air mata cucur ke bumi Wahai adik berbaju putih Dalam tanah bukan sendiri Bahan Bacaan Sastra Lama dan Sastra Baru 9 Dan meniaraplah di waktu papa Di kaki yang Esa Di depan-Mu dukamu duka dunia Sedih kalbuku; sedih semesta Beta hanya duli di udara Hanyut mengikuti dalam pewana Sejuk embun turun jiwa Dan di mata menerang sinar 7. Satire Satire adalah puisi yang berisi sindiran atau kritikan tajam terhadap keadaan masyarakat atau kehidupan sosial-budayanya. Sebenarnya tak terbatas pada puisi saja, prosa dan drama juga bisa disebut satire jika temanya melawan dan menyindir kondisi zaman. Contoh puisi satire yang menyindir dengan tajam adalah puisi karya Amal Hamzah yang berjudul “Melaut Benciku”. Jenis puisi baru menurut jumlah baris dibagi menjadi delapan jenis yaitu: 1. Distikon Distikon merupakan puisi yang tiap baitnya terdiri atas dua baris atau disebut puisi dua seuntai. Distikon berima a-a. Sebagai contoh perhatikan puisi Amir Hamzah berikut ini: Hang Tuah Baju berpuput alun digulung Banyu direbus buih dibubung Selat Malaka ombaknya memecah Pukul-memukul belah-membelah Bahtera ditepuk buritan dilanda Penjajah dilantuk halauan diunda Camar terbang riuh suara Alkamar hilang menyelam segera Armada pringgi lari bersusun Malaka Negeri hendak diturun Galyas dan pusta tinggi dan kukuh Pantas dan angkara ranggi dan angkuh Bahan Bacaan Sastra Lama dan Sastra Baru 10 2. Terzina Terzina merupakan puisi yang tiap baitnya terdiri atas tiga baris atau disebut puisi tiga seuntai. Tidak seperti dalam puisi lainnya, rima pada terzina teratur dengan urutan rima a-a-a-, a-a-b, ab-c, dan a-b-b. Untuk lebih jelasnya perhatikan puisi O.R. Mandank berikut: Bagaimana Kadang-kadang aku benci Bahkan sampai aku maki ...diriku sendiri Seperti aku Menjadi seteru ....diriku sendiri Waktu itu Aku... Seperti seorang lain dari dirku Aku tak puas Sebab itu aku menjadi buas Menjadi buas dan ganas 3. Kuatrain Kuatrain merupakan puisi yang tiap baitnya terdiri atas empat baris atau disebut puisi empat seuntai. Rima dalam kuatrain lebih bebas dan tidak terikat pada satu susunan rima, tidak seperti syair yang bentuknya mirip kuatrain. Biasanya kuatrain memakai susunan rima a-b-a-b, a-a-a-a, atau a-a-b-b. Perhatikan kuatrain karya AM. Daeng Mayla berikut ini. Mendatang-datang jua Kenangan masa lampau Menghilang muncul jua Yang dulu sinau silau Membayang rupa jua Adi kanda lama lalu Membuat hati jua Layu lipu-rindu sendu 4. Kuint Kuint merupakan merupakan puisi yang tiap baitnya terdiri atas lima baris atau disebut puisi lima seuntai. Kuint menggunakan rima a-a-a-a-a. Perhatikan kuint karya O.R. Mandank berikut ini. Hanya Kepada Tuan Satu-satu perasaan Bahan Bacaan Sastra Lama dan Sastra Baru 11 Yang saya rasakan Hanya dapat saya katakan Kepada tuan Yang pernah merasakan Satu-satu kegelisahan Yang saya rasakan Hanya dapat saya kisahkan Kepada tuan Yang pernah diresah kegelisahan Satu-satu desiran Yang saya rasakan Hanya dapat saya syairkan kepada Tuan Yang pernah mendengarkan desiran Satu-satu kenyataan Yang saya dustakan Hanya dapat saya nyatakan kepada tuan Yang enggan menerima kenyataan 5. Sektet Sektet merupakan puisi yang tiap baitnya terdiri atas enam baris atau disebut puisi enam seuntai. Berbeda dengan puisi baru lainnya sektet tidak memiliki susunan rima yang beraturan. Rustam Efendi memiliki sebuah puisi yang berupa sektet berikut ini. Bunda dan Anak Masak jambak Buah sebuah Diperan alam di ujung dahan Merah Beruris-uris Bendera masak bagi selera Lembut umbut Disantap sayap Kereak pipi mengobat luas Semarak jambak Di Bawah pohon terjatuh ranum Bahan Bacaan Sastra Lama dan Sastra Baru 12 Lalu ibu Di pokok pohon Tertarung hidup, terjauh mata Pada pala Tinggal sepenggal Tertercik liur di bawah lidah 6. Septime Septime merupakan puisi yang tiap baitnya terdiri atas tujuh baris atau disebut puisi tujuh seuntai. Septime juga tidak menggunakan susunan rima yang beraturan. Perhatikan contoh septime dalam puisi karya Muhamad Yamin berikut ini. Indonesia tumpah darahku Duduk di pantai tanah yang permai Tempat gelombang pecah berderai Berbuih putih di pasir terderai Tampaklah pulau di lautan hijau Gunung gemunung bagus rupanya Ditimpah air mulia tampaknya Tumpah darahku Indonesia namanya 7. Oktaf atau stanza Oktaf atau stanza merupakan puisi yang tiap baitnya terdiri atas delapan baris atau disebut delapan, tiga seuntai. Oktaf atau stanza ini tidak menggunakan susunan rima yang beraturan. Untuk melihat bentuk stanza perhatikan karya Mr, Dajoh berikut ini. Pertanyaan Anak Kecil Hai kayu-kayu dan daun-daunan! Mengapakah kamu bersenang-senang? Tertawa-tawa bersuka-sukaan? Bahan Bacaan Sastra Lama dan Sastra Baru 13 Oleh angin dan tenang, serang? Adakah angin tertawa dengan kami? Bercerita bagus menyenangkan kami? Aku tidak mengerti kesukaan kamu! Mengapa kamu tertawa-tawa? 8. Soneta Soneta merupakan puisi yang terdiri atas empat belas baris yang terbagi menjadi dua; dua bait pertama masing-masing empat baris dan dua bait kedua masing-masing tiga baris. Sesuai dengan bentuk awalnya, soneta yang diperkenalkan di Indonesia memiliki empat belas baris. Namun, dalam perkembangannya, soneta di Indonesia ada juga yang jumlahnya lebih dari empat belas baris. Soneta memiliki rima yang beragam, ada yang berima a-b-a-b atau a-b-b-a. William Shakespeare dalam karya Sonetanya menggunakan rima a-b-a-b dalam susunan bait 4-4-4-2, sedangkan Muhammad Yamin menggunakan rima a-b-a-b- dalam susunan bait 4-4-3-3-. Jadi, dalam perkembangannya, soneta mengalami pengembangan yang cukup beragam dari soneta asal Italia yang dianggap sebagai soneta awal. Fungsi pada masa lahirnya digunakan sebagai alat untuk menyatakan curahan hati. Namun, kini tidak terbatas pada curahan hati semata-mata, melainkan perasaan-perasaan yang lebih luas seperti pernyataan rindu pada tanah air, pergerakan kemajuan kebudayaan, ilham sukma, dan perasaan keagamaan. Selanjutnya Rizal (2010: 82) mengemukakan pula tentang ciri-ciri puisi soneta sebagai berikut: a. Terdiri atas 14 baris. b. Terdiri atas 4 bait, yang terdiri atas 2 quantrain dan 2 terzina. c. Dua quantrain merupakan sampiran dan merupakan satu kesatuan yang disebut octaf d. Dua terzina merupakan isi dan merupakan satu kesatuan yang disebut isi, disebut juga sextet. e. Bagian sampiran biasanya berupa gambaran alam. Bahan Bacaan Sastra Lama dan Sastra Baru 14 f. Sektet berisi curahan atau jawaban ataupun kesimpulan apa yang dilukiskan dalam octaf, jadi sifatnya subjektif. g. Peralihan dari oktaf ke sektet disebut volta. h. Penambahan baris pada soneta disebut koda. i. Jumlah suku kata dalam tiap-tiap baris biasanya 9-14 suku kata. j. Rima akhirnya adalah (a-b-b-a), (a-b-b-a), (a-a-a), (a-a-a). Untuk lebih jelasnya, perhatikan soneta karya Mohammad Yamin berikut: Gembala Perasaan siapa tak’kan nyala Melihat anak berlagu dendang Seorang sahaja di tengah padang Tiada berbaju buka kepala Beginilah nasib anak gembala Berteduh di bawah kayu nan rindang Semenjak pagi meninggalkan kandang Pulang ke rumah di senja kala Jauh sedikit sesayup sampai Terdengar olehku bunyi serunai Melagukan alam nan molek permai Wahai gembala di segara hijau Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau Maulah aku menurutkan dikau Selanjutnya untuk pembagian prosa dijelaskan sebagai berikut. Prosa lama, berdasarkan isinya dapat digolongkan menjadi: Bahan Bacaan Sastra Lama dan Sastra Baru 15 1. Hikayat, yaitu prosa lama yang berisikan kehidupan para dewa, pangeran, atau putri kerajaan, dan raja-raja yang memiliki kekuatan gaib. Hikayat juga sering menceritakan kepahlawanan tokoh yang ada di dalamnya. Hikayat berasal dari India dan Arab, terkadang tokohnya merupakan tokoh sejarah. Beberapa hikayat yang terkenal antara lain: Hikayat Hang Tuah, HIkayat Si Pahit Lidah, dan Hikayat Kuda Terbang. Berikut cerita “Si Pahit Lidah”. 2. Dongeng, yaitu prosa lama yang mengandung ajaran kebaikan. Dongeng biasanya ditujukan untuk anak-anak. Biasanya berisi tentang kebaikan melawan kejahatan. Cotoh dongeng misalnya: Malin Kundang, Timun Mas, Candra Kirana. 3. Mitos, cerita yang dipercaya turun tumurun sebagai pegangan dalam menjalani hidup dan berperilaku. Mitos terkadang juga dikaitkan dengan asal mula suatu silsilah suku tertentu. Ada juga yang percaya bahwa tokoh yang berada dalam mitos benar-benar ada dan menjadi nenek moyangnya. Contoh mitos adalah Nyi Roro Kidul, Cerita Rama-Sinta, Cerita Mahabaratha. Mitos yang paling terkenal adalah Ken Arok dan Ken Dedes. Ken Arok dipercaya sebagai pendiri Kerajaan Singasari, tetapi sebenarnya tidak ada dokumen sejarah tertulis yang dapat dijadikan bukti. 4. Fabel, yaitu cerita yang tokohnya binatang yang berperilaku seperti manusia. Fabel diciptakan untuk memudahkan pemahaman anak-anak dalam menggambarkan perwatakan atau karakter tokohnya. Sama halnya dengan dongeng fabel kebanyakan diperuntukan bagi anak-anak sehingga tokohnya dibuat simbolik dan menarik. Contoh sederhana untuk menggambarkan tokoh yang cerdik, cekatan disimbolkan dengan binatang kancil, sedangkan untuk menggambarkan karakter jahat biasanya disimbolkan dengan buaya atau harimau yang merupakan binatang buas. Contoh fabel antara lain: Cerita Kancil, Cerita Kura-Kura dan Kelinci, Cerita Kera dan Ikan Mas. 5. Legenda, yaitu prosa lama yang menceritakan asal mula suatu tempat, benda peninggalan sejarah atau fenomena. Contoh legenda adalah Legenda Pulau Samosir, Legenda Candi Mendut, Legenda Tangkuban Perahu. Contoh Legenda yang berasal dari Jawa Barat. Asal Mula Telaga Warna Jaman dahulu ada sebuah kerajaan di Jawa Barat bernama Kutatanggeuhan. Kutatanggeuhan merupakan kerajaan yang makmur dan damai. Rakyatnya hidup tenang dan sejahtera karena dipimpin oleh raja yang bijaksana. Raja Kutatanggeuhan bernama Prabu Suwartalaya dan permaisurinya bernama Ratu Purbamanah. Sayang Prabu dan Ratu belum dikaruniai keturunan sehingga mereka selalu merasa kesepian. Rakyat pun sangat mengkhawatirkan keadaan ini, karena siapa yang akan menggantikan Prabu dan Ratu kelak? Bahan Bacaan Sastra Lama dan Sastra Baru 16 Akhirnya Raja memutuskan untuk bersemedi. Dia pergi ke gunung dan menemukan sebuah gua. Disanalah dia bersemedi, berdoa kepada Tuhan supaya dikaruniai keturunan. Setelah berhari-hari Prabu Suwartalaya berdoa, suatu hari tiba-tiba terdengar suara gaib. “Benarkah kau menginginkan keturunan Prabu Suwartalaya?” kata suara gaib tersebut. “Ya! Saya ingin sekali memiliki anak!” jawab Prabu Suwartalaya. “Baiklah! Doamu akan terkabul. Sekarang pulanglah!” kata suara gaib. Maka Prabu Suwartalaya pun pulang dengan gembira. Benar saja beberapa minggu kemudian, Ratu pun mengandung. Semua bersuka cita. Terlebih lagi ketika sembilan bulan kemudian Ratu melahirkan seorang putri yang cantik. Dia diberi nama Putri Gilang Rukmini. Prabu Suwartalaya mengadakan pesta yang meriah untuk merayakan kelahiran putri mereka. Putri Gilang Rukmini pun menjadi putri kesayangan rakyat Kutatanggeuhan. Beberapa tahun telah berlalu, putri Gilang Rukmini tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita. Sayang putri Gilang Rukmini sangat manja dan berperangai tidak baik, mungkin karena Prabu dan Ratu sangat memanjakannya. Maklumlah anak semata wayang. Apapun yang diminta oleh putri pasti segera dituruti. Jika tidak putri akan sangat marah dan bertindak kasar. Namun rakyat tetap mencintainya. Mereka berharap suatu hari perangai putri akan berubah dengan sendirinya. Seminggu lagi putri Gilang Rukmini akan berusia tujuh belas tahun. Prabu Suwartalaya akan mengadakan pesta syukuran di istana. Semua rakyat boleh datang dan memberikan doa untuk putri Gilang Rukmini. Rakyat berkumpul dan merencanakan hadiah istimewa untuk putri kesayangan mereka. Akhirnya disepakati bahwa mereka akan menghadiahkan sebuah kalung yang sangat indah. Kalung itu terbuat dari emas terbaik dan ditaburi batu-batu permata yang beraneka warna. Maka rakyat dengan sukarela menyisihkan uang mereka dan mengumpulkannya untuk biaya pembuatan hadiah tersebut. Mereka memanggil pandai emas terbaik di kerajaan untuk membuatnya. Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Rakyat berduyun-duyun datang ke halaman istana tempat pesta ulang tahun putri Gilang Rukmini diadakan. Di depan istana sudah berdiri sebuah panggung yang megah. Rakyat bersorak-sorai saat Prabu dan Ratu menaiki panggung. Apalagi ketika akhirnya putri Gilang Rukmini keluar dari istana dan melambaikan tangannya. Rakyat sangat gembira melihat putri yang cantik jelita. Pesta pun berlangsung dengan meriah. Kini tiba saatnya rakyat mempersembahkan hadiah istimewa mereka. Mereka memberikan kotak berisi hadiah itu kepada putri Gilang Rukmini. Prabu Suwartalaya membuka kotak tersebut dan mengeluarkan kalung beraneka warna yang sangat indah dan memberikannya kepada putri Gilang Rukmini. putri Gilang Rukmini memandang kalung itu dengan kening berkerut. Prabu Suwartalaya memandang putrinya, “Ayo nak, kenakan kalung itu! Itu adalah tanda cinta rakyat kepadamu. Jangan kecewakan mereka nak!” “Iya putriku. Kalung itu sangat indah bukan. Ayo kenakan! Biar rakyat senang,” kata Ratu Purbamanah. “Bagus apanya? Kalung ini jelek sekali. Warnanya norak, kampungan! Aku tidak mau memakainya!” teriak putri Gilang Rukmini. Bahan Bacaan Sastra Lama dan Sastra Baru 17 Dia membanting kalung itu ke lantai hingga hancur. Prabu Suwartalaya, Ratu Purbamanah dan rakyat Kutatanggeuhan hanya bisa tertegun menyaksikan kejadian itu. Lalu tangis Ratu Purbamanah pecah. Dia sangat sedih melihat kelakuan putrinya. Akhirnya semua pun meneteskan air mata, hingga istana pun basah oleh air mata mereka. Mereka terus menangis hingga air mata mereka membanjiri istana, dan tiba-tiba saja dari dalam tanah pun keluar air yang deras, makin lama makin banyak. Hingga akhirnya kerajaan Kutatanggeuhan tenggelam dan terciptalah sebuah danau yang sangat indah. Kini danau itu masih bisa kita temui di daerah Puncak, Jawa Barat. Danau itu dinamakan Telaga Warna, karena jika hari cerah, airnya akan memantulkan cahaya matahari hingga tampak berwarna-warni. Konon katanya, itu adalah pantulan warna yang berasal dari kalung putri Gilang Rukmini. Prosa Baru Pada proses perkembangannya prosa juga mengalami perubahan meskipun unsur pembangunnya tidak jauh berbeda, hanya saja isi dan tema prosa baru telah lebih berkembang. Berikut beberapa jenis prosa baru atau prosa modern. 1. Cerpen Cerpen merupakan kependekan cerita pendek, yaitu cerita yang mengambil momen penting dalam lakuan tokoh. Biasanya durasi cerpen tidak panjang dan membutuhkan lima sampai lima belas halaman. Ada juga cerpen yang lebih dari lima belas halaman, tetapi itu tak banyak karena semakin panjang cerpen, kepadatan dan momen yang ditangkap akan hilang. Beberapa cerpen yang terkenal diantaranya. Robohnya Surau Kami dari A.A. Navis dan Sepotong Senja untuk Pacarku karya Seno Gumira Ajidarma. Berikut ini contoh cerpen anak-anak: Cobaan Namaku Clara Jennefy, umurku 11 tahun aku tinggal di Tasikmalaya. Aku sekolah di SD Gombyong 3, kelas 6. Di kelas aku dipilih sebagai wakil ketua kelas, aku sudah menjadi wakil ketua kelas selama 4 tahun dari kelas 3 sampai sekarang. Setiap kali ketua kelas tidak masuk, dan ada suatu masalah aku jarang sekali marah. Sekarang, pelajaran Matematika gurunya tidak masuk jadi, memberikan tugas pada kami. Seperti biasa, yang lain tidak pernah mengerjakannya dan aku selalu selesai mengerjakannya di awal waktu. Setelah mengerjakan, terkadang aku membuat cerita atau menggambar. Kalau sekarang, aku memilih untuk menggambar. “Clara! marahin dong si Gipul, ngeganggu terus!” Luna menggoyang-goyangkan tubuhku. “Gipuu! jangan ganggu cewek!” Teriakku, lalu Luna meninggalkanku tanpa berkata apapun bahkan terima kasih. Bahan Bacaan Sastra Lama dan Sastra Baru 18 Setelah mengadu padaku, biasanya anak cewek maupun cowok langsung main atau mengobrol lagi. Beberapa menit berlalu, guru yang sedang mengajar di kelas lain mungkin merasa terganggu sehingga mereka datang ke kelas kami dan minta untuk tidak berisik. Tapi tetap saja kelasku berisik. Awalnya, aku diam saja melihat kelasku berantakan. Tapi karena lama kelamaan, itu membuatku terganggu sehingga sesuatu terjadi. BRUK!!! semua diam, hening, tak ada suara. “Bisa gak sih kalian diem?! kalian itu bukan anak-anak lagi, udah mau lulus SD tapi kok sifatnya masih kayak gitu terus sih?!” Aku berbicara sekeras-kerasnya. “Ya karena kita mau lulus kan kita harus membuat kenangan, seperti bermain sepuasnya!” Bantah Nita, lalu semuanya mengiyakan. “hhh… harusnya kalian jadi contoh yang baik buat adik kelas kalian, karena sebentar lagi kalian lulus SD, mikir dong! masa kayak gitu aja harus diceramahin? ya udah deh, kalian boleh ngapain aja, tapi jangan sampai ganggu aku!” Jelasku panjang lebar, semuanya langsung kembali pada kesibukannya masing-masing, namun kini tidak terlalu berisik. Karena aku tidak bisa apa-apa lagi, aku tulis semua orang yang tidak mengerjakan tugas. Tentu saja, 98% murid di kelas ini dapat hukuman. Dan mungkin setelah itu, mereka akan kapok. Keesokanya. Hari ini guru Matematikanya masuk, aku memberikan catatan yang kemarin ku tulis. Ketika Pak Sudorsuyonoti melihatnya, wajahnya tampak merah seperti tomat matang. Dia menghukum sebagian besar murid kelasku membersihkan satu sekolah ini. Penulis: Syifani Abdillah Alghifari Sumber: http://cerpenmu.com/cerpen-anak/cobaan.html 2. Novel Novel yaitu jenis prosa yang menceritakan masalah yang dihadapi tokoh dalam lingkup hidupnya, tetapi tidak bercerita hingga sang tokoh meninggal. Novel juga berusaha menangkap momen penting yang dilalui sang tokoh utamanya, tetapi disampaikan dengan lebih rinci dan pengaluran yang lebih renggang, tidak padat. Novel terkenal yang ada dalam sejarah sastra diantaranya. Layar Terkembang karya Suatn Takdir Alisjahbana, Burung-Burung Manyar karya YB Mangun Wijaya dan Saman karya Ayu Utami. 3. Roman Roman yaitu prosa yang bercerita dalam lingkup hidup hingga sang tokoh meninggal. Biasanya tokoh yang diceritakan mengalami perubahan nasib di akhir cerita. Roman juga terbagi menjadi beberapa jenis. Hal yang sama juga berlaku dalam cerpen. Berikut pembagian jenis roman: Bahan Bacaan Sastra Lama dan Sastra Baru 19 a. Roman sejarah yaitu roman yang ceritanya diambil berdasarkan fakta sejarah. Meskipun demikian, tetap saja kebenaran yang ada di dalamnya tak dapat dibuktikan. Roman sejarah adalah penyampaian yang menarik atas sebuah cerita sejarah. Roman sejarah juga merupakan sarana yang baik untuk mempelajari sejarah. Beberapa pengarang yang membuat roman sejarah antara lain: Pramudya Ananta Toer dengan tetralogi Bumi Manusia, Y.B Mangunwijaya dengan karyannya Roro Mendut, dan Remy Silado dengan karyanya Paris van Java. b. Roman sosial yaitu roman yang menggambarkan kondisi sosial masyarakat dan terkadang menyindirnya. Penggambaran yang dimaksudkan di sini bukan berarti pengarang mengambil mentah-mentah peristiwa yang tengah terjadi dan menuliskannya menjadi sebuah roman. Pengarang menyimbolkan realitas sosial dalam cerita yang ditulisnya secara tersirat dan menekankan kesan yang kuat akan kondisi sosial masyarakat. Roman seperti ini banyak terdapat dalam karya populer seperti karya Marga T atau Hilman. c. Roman bertendens yaitu jenis roman yang memiliki tujuan tertentu, seperti propaganda dan indoktrinasi ajaran tertentu. Roman jenis ini sering munul dalam masa pergolakan politik. Sebagai contoh Roman Sitti Nurbaya karya Marah Rusli yang terbit pada tahun 1922 menempatkan Datuk Maringgih sebagai tokoh jahat. Padahal, Datuk Maringgih memberontak untuk membela tanah airnya, sedangkan Samsulbahri berada di pihak Kompeni Belanda. Pada masa perjuangan kemerdekaan orang-orang yang memberontak pada Kompeni Belanda adalah penjahat. d. Roman psikologis yaitu roman yang mementingkan aspek psikologis dalam penuturannya. Pada roman psikologis penuturan lebih diutamakan pada apa yang dirasakan tokoh utamanya. Lingkungan dan suasana penggambarannya lebih mengutamakan pandangan subjektif tokoh utama (biasanya memakai sudut pandang orang pertama) Roman seperti ini bisa dijumpai pada karya Iwan Simatupang yang berjudul Ziarah dan Merahnya Merah. 4. Novelet merupakan jenis prosa yang lebih panjang dari cerpen, tetapi terlalu pendek jika dikategorikan sebagai novel. Biasanaya novel berkisar antara lima puluh hingga seratus halaman. Novelet banyak dijumpai dalam karya-karya populer yang bersifat komedi. Karya-karya Hilman Hariwijaya dapat dikategorikan dalam jenis ini sebagai contoh Lupus, Olga dan Sepatu Roda, sedangkan untuk yang berkategori sastra yang dapat digolongkan ke dalam novelet misalnya Sri Sumarah dan Bawuk karya Umar Kayam. DISCLAIMER BAHAN BACAAN INI BERSUMBER DARI MODUL DIKLAT GURU PEMBELAJAR: GENRE DAN APRESIASI SASTRA (DIRJEN GTK, 2016) DAN HANYA DIGUNAKAN UNTUK KEPENTINGAN DIKLAT DALAM JARINGAN. TIDAK DISARANKAN MENGGUNAKAN BAHAN BACAAN TANPA MENGIKUTI AKTIVITAS DIKLAT DALAM JARINGAN DEMI MENGHINDARI KESALAHAN INTERPRETASI DAN KETIDAKLENGKAPAN INFORMASI.


Sastra Lama dan Sastra Baru/Modern
Tabel Perbedaan Sastra Lama dan Sastra Baru/Modern

Aspek
Sastra Lama
Sastra Baru/Modern
Bentuk
Terikat
Bebas
Tema
Istana sentris, kaku
Masyarakat sentris, kreatif
Bahasa
Melayu, Arab
Indo-Eropa
Latar Budaya
Anonim
Nonim
Perkembangan
Statis, lisan
Dinamis, tulis


SRIANDAYANI
Puisi
Puisi merupakan salah satu ragam karya sastra yang terikat dengan irama, ritma, rima, bait, larik dan ditandai dengan bahasa yang padat. Puisi juga merupakan seni tertulis yang mana menggunakan bahasa sebagai kualitas estetiknya atau keindahanya.
Ciri-ciri puisi
  • Berupa puisi rakyat yang tidak diketahui nama pengarangnya.
  • Terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris dalam setiap baitnya, sajak dan jumlah suku kata dalam setiap barisnya.
  • Disampaikan dari mulut ke mulut sehingga sering disebut juga dengan sastra

  • lisan / kesusastraan lisan.
  • Menggunakan majas/gaya bahasa tetap (statis) & klise.
  • Berisikan tentang kerajaan, fantastis & istanasentris.






Share:

PPDB ONLINE SD-DJI

Dibuat olehARDHA maz_ardha.develoers.com