Rabu, 11 April 2018

Cerpen Kita Sd djama'atul Ichwan surakarta


LAA TAI’AS (JANGAN BERPUTUS ASA)


Ponpes Ta’mirul Islam. 1 April 2018.
Pagi yang indah Nak, sambil mengisi akhir pekan yang juga indah - karna bersamamu. Bagi Ayah, liburan yang menyenangkan adalah berkumpul bersama keluarga, apalagi melihat wajahmu yang ceria. Sepagi ini Ayah sengaja mengajakmu berziaroh (mengunjungi) ‘tempat bersejarah’. Bukan tempat sejarah yang masuk dalam daftar museum nasional maupun international, tapi paling tidak melalui tempat inilah, sejarah kehidupanmu terbentuk. Berpilin ke langit  melalui usaha, doa & amal baik. Lantas diijabahi oleh Tuhan, dan menjadi asbabiyah kehidupan-kehidupan yang lain. Melalui tempat ini, Ayah & Ibu menjalani takdir kehidupan dari Sang Pencipta Alam, dari kota kelahiran kami yg terpisah lautan & ribuan kilometer jarak - di tempat ini Ayah & Ibu dipertemukan.
Maka sekelumit kisah akan Ayah ceritakan, sambil memandang santri yang berlalu lalang beraktivitas di 'tempat penuh sejarah' yang kan selalu kami kenang. Tempat penuh keajaiban.
*****
Adalah puluhan tahun silam, seorang pemuda gagah nan tampan menuntut ilmu di sebuah Pesantren di Jawa Timur. Bukan main tampan pemuda tersebut, pun juga gagah nan memukau. Oh iya, dia pandai bermain bola. Kelihaiannya mengolah si kulit bundar membuat orang seantero pesantren mengenalinya. Tak ayal dia sering mewakili tim sepak bola pesantren, masuk skuat utama. Namanya di elu-elukan. "Nahar... Nahar.... " begitu ia biasa dipanggil. Pergi bertanding, pulang membawa kemenangan.
Di samping pandai bermain bola, ia pun juga pintar. Dalam hal pelajaran ia termasuk golongan murid yang rajin dan cerdas. Dan hey, bukan hanya itu saja. Selain pandai di kelas maupun di lapangan, ia juga lihai memainkan alat musik. Aduhai, lengkap sudah. Wajah tampan, pandai bermain bola, pintar pelajaran, rajin, lihai bermusik. Perempuan mana yang tak jatuh hati bila mengenal pemuda ini? Bahkan Guru-gurunya, teman-temannya, suka bergaul dengannya sebab akhlaknya pun juga terpuji.
Tapi Nak, adalah sisi lain pemuda ini juga tak dapat dipungkiri. Ia yatim-piatu sejak kecil. Ayah-Ibunya meninggal saat usianya belum genap empat tahun. Bahkan ia sendiri lupa bagaimana paras orang tuanya. Jangankan wajah, apalagi merasakan dipeluk, dimanja. Hari-hari ia di Pesantren, termenung melamun melihat santri lain dijenguk oleh orang tuanya, bercengkrama, bercerita. Ia dekap seluruh kesedihan & kepedihan akan masa lalunya yang kelam tanpa orang tua, menerima takdir Tuhan dengan penuh rasa syukur dan hati yang lapang. Kau dengar cerita ini? Bahkan seluruh kesedihan itu ia jadikan pelecut semangat untuk menjadi lebih baik. Tidak ada kata menyerah dalam kamus hidupnya. Sebab salah satu firman Tuhan untuk manusia ialah "Janganlah kamu berputus asa dalam meraih rahmat-Nya". Hal itu ia buktikan dalam kehidupan yang nyata.
*****
Namun kisah ini masih jauh dari usai. Perjalanannya dalam menuntut ilmu dan melaksanakan kewajiban, melewati jalan halang berlintang. Kali ini ujian kenaikan kelas. Tapi bukan tentang ia yang tidak lulus, sama sekali bukan. Atau ia yang enggan belajar, tentu bukan. Puncaknya yaitu suatu hari, di Pesantren tempat ia belajar, tertangkaplah seorang pencuri. Pencurian termasuk salah satu tindakan kriminal, bahkan terberat. Balasan setimpal untuk pencuri adalah diusir dari Pesantren. Pemuda tadi tenang saja sebab bukan ia pencurinya.
Tapi siapa sangka, Pencuri yang sudah tertangkap tadi mengaku “Saya tidak melakukan ini sendiri, saya lakukan pencurian ini bersama Nahar”. Tak ayal berubahlah kondisi 180 derajat. Guru-guru yang biasa memujinya, memanggil pemuda tadi untuk menghadap. “Kamu telah bersekongkol dengan pencuri” sahut salah seorang pengurus Pesantren. Pemuda tadi terkaget “Maaf, saya tidak tahu menahu soal ini. Saya sama sekali tidak tau” ucapnya membela diri.
Malang tak dapat dihindar, untung tak dapat diraih. Tidak ada bukti bagi dia untuk membela diri. Maka hukuman pun dijatuhkan kepadanya yang tidak melakukan kesalahan. Ia di skors selama satu bulan. Dilarang menginjakkan kaki di Pesantren dan mengikuti kegiatan Pesantren dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Ia difitnah. Dan karena saat itu ada ujian kenaikan kelas, maka ia pun juga tidak berhak mengikuti ujian kenaikan. Maka itu berarti vonis kedua yang sudah pasti baginya, adalah tidak bisa naik kelas. Dengan tambahan sanksi moral, yaitu seluruh popularitasnya hilang. Nama baiknya di hadapan orang-orang menjadi kotor. Seluruh pujian dari orang yang kagum kepadanya memudar. Berganti dengan cap dan tuduhan yang tersemat kepadanya sebagai seorang “pencuri”. Kehidupannya melewati jalan terjal lagi.
*****

    Ia langkahkan kaki pergi dari pesantren menuju tempat pengasingan, dikembalikan ke kampung halaman dalam jangka waktu yang ditentukan. Tidak mengikuti ujian kenaikan, tertinggal dan mengulang di kelas yang sama tahun depan. Beragam fitnah dan cemooh orang kepadanya sebagai pelaku criminal. Ditambah beban masa lalu yang kelam, tanpa orang tua yang bisa diajak berbagi kesedihan. Tidak ada lagi masa depan cerah, semua kelam. Namun lihatlah, Pemuda tadi tetap tegar. Segala takdir yang diberikan oleh Tuhan, ia terima dengan hati yang lapang. “Semua pasti ada hikmahnya” ucapnya dalam hati. Sekali lagi, tidak ada kata menyerah dalam kamus hidupnya. Bahkan dalam kondisi sesulit apapun.
“Jangan putus sebelum putus” prinsip hidup yang teguh. Dijalaninya waktu pengasingan dengan ikhlas. Sampai habis masa skorsing itu, kembalilah ia ke pesantren. Lantas menerima kenyataan bahwa ia masih tinggal kelas. Tak mengapa, toh tujuan utama ia ke Pesantren adalah untuk mencari ilmu, bukan mencari kelas. Toh bisa jadi ada beberapa materi yang belum ia pahami. Ia terima ikhlas semua ini.
Lantas dengan pemahaman yang baik dan hati yang lapang itulah, kesabarannya berbuah hasil yang memuaskan. Bahwa setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Hingga akhirnya pencuri yang menuduhnya bersekongkol, tiba-tiba mengaku bahwa pemuda tadi bukanlah seorang pencuri. Maka hilanglah citra buruknya di hadapan para Guru, Pengurus Pesantren maupun teman-teman. Perlahan nama baiknya kembali, tak lagi dikenal sebagai seorang pencuri. Bahkan ia dipercaya lebih untuk menjadi bendahara Pesantren. Segala fitnah dan kejadian buruk yang menimpa berhasil ia lalui. Berbuah manis, berakhir indah, bagi siapa saja yang menerima takdir dengan ikhlas. “Bahwa di setiap kesusahan pasti ada kemudahan. Dan di setiap kesusahan pasti akan ada kemudahan” Demikianlah janji Tuhan dalam Al-Qur’an.
*****
Kehidupan berlanjut setelah itu, Nak. Pemuda tadi lulus dari Pesantren. Kembali ke kampung halaman. Waktu berlalu dan bertahun-tahun setelah kejadian itu, dengan di dasari niat yang ikhlas dan hati yang tulus, ia dirikan sebuah Pondok Pesantren. Inilah “tempat bersejarah” yang sekarang kita kunjungi. Sebuah tempat yang dibangun atas sebuah prinsip “Jangan Putus Sebelum Putus”. Sebuah tempat yang dibangun dengan cita-cita untuk memakmurkan Agama Islam. Sebuah tempat penuh kenangan, canda tawa, bahagia, duka, romansa, dan banyak hal lainnya.
Yang hingga sekarang, Pemuda tadi lebih dikenal oleh orang-orang dengan panggilan “Kyai Nahar” atau “Mbah Nahar”. Beliau menjadi salah satu ulama yang disegani di daerah Solo, kota kelahirannya. Ia rangkul seluruh elemen umat Islam tanpa memandang kelompok atau golongan. Jika ada kutipan yang mengatakan “puncak kesaktian adalah tidak memusuhi dan tidak bisa dimusuhi”, maka beliau berada dalam puncak kesaktian itu. Ia rangkul siapapun, dan dengan akhlak baik serta cita-citanya yang mulia untuk memakmurkan Agama Islam, tidak ada alasan bagi orang untuk memusuhinya.
Kehidupan ini saling berkaitan, Nak. Jika pada saat itu beliau putus untuk menuntut ilmu, maka kemungkinan besar tidak ada “tempat bersejarah” ini. Dan jika tempat ini tidak ada, maka Ayah dan Ibu juga tidak akan bertemu. Itu juga berarti tidak akan ada kamu. Ayah dan Ibu menimba ilmu di tempat ini, lantas kami bertemu, hingga beberapa tahun kemudian kami menikah dan kamu lahir. Kami mengemban cita-cita mulia untuk turut memakmurkan Agama Islam, maka semoga kelak suatu saat, kamu bersama teman-temanmu, bersama saudara-saudaramu, menjadi generasi yang juga mewarisi cita-cita nan mulia ini.

Catatan: Kisah ini ditulis ulang dari cerita pengalaman Ust Naharussurur ketika dituduh mencuri saat masih nyantri.

Share:

PPDB ONLINE SD-DJI

Dibuat olehARDHA maz_ardha.develoers.com