Minggu, 14 Oktober 2018

Belajar Nahwu Al Jurumiyyah


Ringkasan kitab jurumiyah
Moga bermanfaat..

 DALAM disiplin Ilmu Nahwu, pembahasan kata benda (isim), verba (fi’il), dan huruf (harf) – yang membentuk suatu kalimat (kalam), adalah hal yang mendasar. Imam Hasan al-Kafrawi, dalam Syarh Ajrumiah-nya mengatakan bahwa isim adalah sebuah kata yang mempunyai makna tersendiri dan tidak terikat pada ketiga zaman yang ada: masa sekarang (hāl), masa lampau (mādli), dan masa yang akan datang (mustaqbal).

Berbeda dengan isim, verba (fi’il) adalah sebuah kata yang mempunyai makna tersendiri dan terikat pada ketiga zaman yang ada. Adapun harf  adalah sebuah kata yang mempunyai makna bila dihadirkan bersama kata lain dan tidak terkait ketiga zaman yang ada. Setiap perkataan dalam bahasa Arab, tidak keluar dari tiga hal tersebut.

Sebelum membahas tanda-tanda yang menunjukkan pada isimfi’il, dan harf, Imam Asymawi dalam hasyiyah Ajrumiyyah-nya  menyebutkan hukum dari ketiga hal tersebut.  Menurut Imam Asymawi, hukum asal dari isim adalah mu’rob.  Artinya, keadaan harakat pada akhir kata tersebut dapat berubah – dari fathahkasrahdhammah ataupun sukun. Sementara hukum asal dari fi’il adalah mabni, yaitu keadaan harakat akhir pada sebuah kata yang bersifat permanen atau tetap dan tidak bisa berubah. Begitu juga dengan harf.

Dalam menulis syarh atau hasyiyah, para ulama banyak yang menyelipkan beberapa pertanyaan terkait kaidah dalam bentuk metodologi dialog (tariqat al-Muqāwalah). Itu untuk melatih para penuntut ilmu dalam memahami teks dan membangun kerangka berfikir yang baik. Biasanya mereka memulai dengan kata “fain qulta”, “qultu”, “fain qīla”, “qulna”, dan lainnya. Selanjutnya,  dari kaidah diatas munculah pertanyaan, “kenapa hukum asal pada isim adalah mu’rob? Begitu juga dengan fi’il.  Kenapa asal hukumnya adalah mabni?”.
























Share:

PPDB ONLINE SD-DJI

Dibuat olehARDHA maz_ardha.develoers.com