Jumat, 10 April 2020

Pantaskah Kita Berselisih.


*MASIH PANTASKAH KITA BERSELISIH?*

Di saat seperti ini, bukan saatnya lagi kita berselisih, apakah harus tetap di rumah atau tetap ke masjid untuk shalat berjama'ah. Bukan, bukan itu pertanyaan besar yang harus kita tanyakan!

Seharusnya yang kita tanyakan, "Masih pantaskah kita berpecah belah di tengah meluasnya wabah?!"

Seharusnya yang kita tanyakan, "Masih harus kah kita bercerai berai di tengah banyaknya air mata yang terburai?!"

Wahai saudaraku, tak sadarkah kalian, bukan kalian saja yang bersedih hati! Kita semua merasakan kesedihan yang sama dalam masalah yang berbeda-beda.

~. *KAMI YANG TETAP KE MASJID*

Taukah kalian, bagi kami yang tetap melangkahkan kaki kami ke masjid, bukan semata-mata ingin melakukan ibadah dan mengikuti sunnah. Namun kami mencoba bermunajat bersama-sama demi diangkatnya musibah. Maka dari itulah, sebagian kami melakukan qunut nazilah saat shalat berjama'ah.

Bagi kami yang tetap ke masjid, kami bersedih karena rumah Kekasih kami perlahan menjadi sepi, padahal tempat-tempat hiburan di tengah kota seperti tempat Karaoke dan Bioskop, sebagiannya masih ramai dipadati. Padahal, tempat ibadah tentu lebih baik dan utama untuk dikunjungi. Kata teladan kami, Rasulullah ﷺ,

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

"Di antara tanda baiknya Islam seseorang, adalah meninggalkan hal-hal yang tak bermanfaat baginya." (HR. Tirmidzi no. 2239 dan Ibnu Majah no. 3966)

Sudahlah, hentikan memaki kami dengan hal-hal yang tak kalian mengerti. Karena cinta kami pada masjid, sudah sangat terpatri di hati.

Tak bolehkah kami mengikuti shahabat Nabi, Abu Ubaidah Al jarrah رضي اللّٰه تعالى عنه yang tetap bertahan hingga akhirnya mati syahid di tengah wabah yang ganas menjangkit?!

Karena, meski pun ada resiko kematian yang akan mengintai kami, namun tak bolehkah kami berharap mati syahid sebagaimana shahabat Rasulullah di atas?! Bukankah Rasulullah ﷺ bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ يَكُونُ فِي بَلَدٍ يَكُونُ فِيهِ وَيَمْكُثُ فِيهِ لَا يَخْرُجُ مِنْ الْبَلَدِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ

“Dan tidaklah seorang hamba di suatu negeri yang terkena penyakit tha'un dan ia tinggal di sana, ia tidak mengungsi dari negeri itu dengan sabar dan mengharap pahala di sisi ALLAH, ia sadar bahwa tak akan menimpanya selain yang telah digariskan-NYA baginya, selain baginya pahala seperti pahala syahid." (HR. Bukhari no. 6129 dan Ahmad no. 24056)

Saya sangat berharap, bahwa kalian yang memilih tetap melaksanakan shalat berjama'ah dan shalat Jum'at di masjid, apabila ALLAH ﷻ menakdirkan bagi kalian wafat karena virus ini, mudah-mudahan kalian bisa mendapatkan predikat mati syahid.

~. *KAMI YANG MEMILIH SHALAT DI RUMAH*

Namun, taukah juga kalian, bukan pula berarti, bagi kami yang memilih untuk tetap di rumah selama masa inkubasi, artinya kami takut mati. Bukan berarti kami yang tetap di rumah selama masa inkubasi, artinya kami tak punya rasa sedih.

Kami yang memilih untuk tinggal di rumah, turut bersedih karena harus berpisah sementara dengan rumah Sang Kekasih sejati. Kami yang memilih tetap di rumah, turut bersedih karena harus menahan diri untuk tidak bertemu dengan sahabat-sahabat kami yang shalih.

Kami yang memilih tetap di rumah, mengupayakan agar virus ini tidak semakin mewabah. Karena kami peduli dengan kesehatan kalian semua, bukan semata ingin menyelamatkan diri sendiri. Begini lah yang dilakukan shahabat Amr bin Ash رضي اللّٰه تعالى عنه dan rakyat Syams ketika di masa kekhalifahan Umar bin Khaththab رضي اللّٰه تعالى عنه terjadi wabah tha’un yang menewaskan sekitar 20 ribu jiwa, hampir separuh dari jumlah penduduk Syams kala itu.

Kami yang memilih tetap di rumah, juga tetap bermunajat kepada ALLAH ﷻ agar segera menyudahi wabah ini, demi kebaikan kita bersama.

Jangan lah ada di dalam hati kalian rasa benci terhadap kami. Apalagi menuduh kami sebagai orang munafik dan antek PKI. Jelas ini adalah tuduhan yang amat keji. Apalagi mendoakan kami mati karena terjangkit virus ini. Alangkah lebih baiknya bagi kalian untuk senantiasa mendoakan kebaikan bagi semua. Karena doa kalian kepada saudara kalian, adalah doa kalian kepada diri kalian sendiri.

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) yang berjauhan, melainkan malaikat akan mendoakannya pula, 'Dan bagimu kebaikan yang sama.” (HR. Muslim no. 4912)

Tak bisa kah kalian berpikir positif bahwa kami hanya mengikuti ahli ilmu di antara kami, yang telah mengeluarkan fatwa tentang hal ini?! Sungguh Maha Benar ALLAH ﷻ yang telah berfirman,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"Maka bertanyalah pada ahli dzikir (ahli ilmu), jika kalian tidak mengetahui." (QS. Al Anbiya: 7)

Atau kalian tak punya rasa husnuzhan pada ulama dan menuduh mereka lebih takut pada Corona daripada kepada ALLAH ﷻ?! Padahal ALLAH sendiri telah berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

"Sesungguhnya yang paling takut kepada ALLAH di antara hamba-NYA adalah para ulama." (QS. Fathir: 28)

Jangan lah keangkuhan dan ketidaktahuan kita, membuat lisan kita mudah mencela. Jangan pula semangat kita dalam melawan ketakutan, membuat kita malah mudah memandang orang yang berbeda dengan pandangan yang rendah.

Kami yang berdiam di rumah, bukannya tidak mengetahui, bahwa,

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

"Shalat berjama'ah itu lebih utama 27 derajat dari Shalat sendirian." (HR. Bukhari no. 609 dan Muslim no. 1038)

Namun Rasulullah ﷺ juga memerintahkan kita untuk berikhtiar menjauhi wabah sebisa mungkin. Makanya beliau bersabda,

و فِرَّ مِنَ المجذومِ كما تَفِرُّ مِنَ الأسدِ

"Dan larilah kalian dari kusta sebagaimana kalian lari dari singa!" (HR. Bukhari no. 5707)

Tawakkal itu bukan berarti kita bisa pasrah tanpa ada usaha. Dahulu di zaman Nabi ﷺ, ada seorang shahabat yang hendak meninggalkan untanya begitu saja tanpa diikat, dengan alasan untuk ber-tawakkal kepada ALLAH ﷻ. Namun Nabi ﷺ malah bersabda,

اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ

"Ikatlah lalu ber-tawakkal lah! " (HR. At Tirmidzi no. 2441)

Tak bolehkah kami melakukan daya upaya demi menghindari bahaya yang lebih besar? Bukankah dalam kaidah fiqh disebutkan,

درأ المفاسد مقدم على جلب المصالح

"Menolak mafsadat lebih didahulukan dari mengambil manfaat."

Seandainya banyak di antara kami yang malah mati, bukankah masjid pun akan semakin sepi nanti?!

Kami tak lebih hanya mengikuti himbauan dari para pemimpin kami. Himbauan pemimpin kami yang mengikuti himbauan dari para ahlul 'ilmi. Bukan kah kata Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah رحمه اللّٰه تعالى,

فكما أن طاعة العلماء تبع لطاعة الرسول، فطاعة الأمراء تبع لطاعة العلماء، ولما كان قيام الإسلام بطائفتي العلماء والأمراء

"Sebagaimana menaati ulama mengikuti ketaatan pada Rasulullah, maka taat kepada umara' (pemerintah) mengikuti ketaatan kepada ulama. Dikarenakan penegakan Islam dilakukan oleh dua golongan yakni ulama dan umara'.” (I'lamul Muwaqqi'in 'an Rabbul 'aalamin: 2/16)

Maka sudahilah merendahkan dan meremehkan upaya kami. Jangan ada lagi yang menuduh kami menjauhi ALLAH ﷻ meski untuk sementara waktu, tidak lagi hadir di rumah-rumah-NYA yang mulia.

Jangan pula menuduh ulama kami bersepakat dalam kebathilan, karena apa yang mereka lakukan adalah ijtihad. Apabila ijitihad-nya benar, maka mereka akan mendapatkan dua pahala. Apabila mereka ijtihad-nya salah, mereka tetap mendapatkan satu pahala. Akan tetapi, apa yang akan kalian dapatkan dari cemoohan dan celaan kalian terhadap fatwa mereka, selain dosa?!

Saya sangat berharap, bagi kaum Muslimin yang memilih tidak ke masjid dalam beberapa waktu ke depan karena udzur ini, semoga ALLAH ﷻ senantiasa menjaga kalian dan kalian tetap bisa mendapatkan pahala yang sama sebagaimana dulunya kalian tetap ke masjid. Hal ini sesuai dengan apa yang Rasul-NYA sabdakan,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

"Jika seorang hamba sakit atau bepergian (lalu beramal) ditulis baginya (pahala) seperti ketika dia beramal sebagai muqim dan dalam keadaan sehat." (HR. Bukhari no. 2774 dan Ahmad no. 18848)

~. *MEREKA YANG MASIH BEKERJA DI LUAR*

Ada di antara manusia yang masih berjuang demi kehidupan keluarganya dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Yakni mereka yang masih mencari nafkah tanpa lagi peduli, bahwa virus Corona ini senantiasa mengintai di sekitar mereka.

Mereka tetap keluar mencari nafkah demi piring-piring nasi keluarganya yang harus mereka isi.

Tidakkah kalian berempati pada nasib mereka, yang apabila mereka tetap di rumah, bisa saja mereka selamat dari virus Corona, tapi apa mereka sanggup menahan perut-perut mereka yang terus meronta karena tak mendapat asupan makanan?!

Apalagi, sebagian dari mereka, menjual apa yang sehari-hari dibutuhkan masyarakat lainnya yang tetap di rumah. Mereka rela masih berjual-beli di kerumunan pasar, agar tetap ada suplai kebutuhan pokok kalian yang memilih tetap di rumah. Atas izin ALLAH ﷻ, keberadaan mereka di luar sana, bisa menjadi sebab kalian yang di rumah masih bisa memasak dan menikmati makanan untuk keberlangsungan hidup kalian.

Masih pantaskah kita berdebat tentang kondisi kita sendiri, sementara banyak di antara saudara kita yang bahkan konidisinya tak memungkinkan untuk hanya berdiam diri di dalam rumah?!

Belum lagi nasib petugas serta relawan kesehatan dan kemanusiaan. Mereka rela harus tetap berada di luar demi mengatasi wabah yang mendunia ini.

Mereka rela meluangkan banyak waktunya untuk menangani kebutuhan medis sebagian saudara kita yang terkena wabah.

Mereka rela berpisah sementara dari keluarga yang mereka sayangi, demi kita semua!


Mereka harus berani menghadapi resiko besar tertular virus dalam rangka menangani wabah mematikan ini.

Share:

PPDB ONLINE SD-DJI

Dibuat olehARDHA maz_ardha.develoers.com